Menang atas Proses Hidup



Artikel Rohani Kristen.

Menang atas Proses Hidup

Belajar dari Hana di Tengah Krisis Bangsa

Pematangsiantar,Sumutpos.id –06/01/2026

Bangsa Indonesia saat ini sedang berjalan dalam sebuah proses besar.

 Tekanan ekonomi, persoalan penegakan hukum, ketimpangan sosial, serta krisis keteladanan kepemimpinan menjadi pergumulan nyata yang dirasakan masyarakat luas.


 Dalam kondisi seperti ini, firman Tuhan memberikan cermin rohani yang relevan melalui kisah Hana dan Penina dalam 1 Samuel pasal 1.

Alkitab mengajarkan bahwa proses hidup tidak selalu menyenangkan, tetapi selalu bermakna bila dijalani bersama Tuhan.

Kita memperhatikan wanita yang bernama 1. Penina

- Penina: Kemenangan Sosial yang Kehilangan Nurani

Penina digambarkan sebagai sosok yang secara sosial tampak berhasil:

memiliki keturunan, punya posisi dalam keluarga, dan punya pengaruh.

Namun keberhasilan Penina  tidak dibarengi dengan empati dan keadilan. Ia menggunakan keunggulannya untuk menekan dan melukai Hana.


📖 “Adapun madunya itu menyakiti hatinya, supaya ia gusar…”

(1 Samuel 1:6)

Dari sudut pandang sosial dan hukum, Penina mencerminkan praktik ketidakadilan struktural: pihak yang kuat menekan yang lemah tanpa mempertimbangkan nilai kemanusiaan.

Fenomena ini juga terlihat dalam kehidupan berbangsa, ketika kekuasaan, jabatan, atau hukum digunakan tanpa hati nurani, Akhirnya hanya melahirkan Para Pejabat Korup yang tamak & serakah.


📖 “Celakalah orang-orang yang memutarbalikkan keadilan.”

(Yesaya 5:20)

Kemenangan, Kekayaan dan atau Keberhasilan yang dibangun tanpa moral dan keadilan pada akhirnya hanya akan melahirkan konflik dan kehancuran sosial.


2.Hana 

Hana menggambarkan Keteguhan Iman di Tengah Ketidakadilan

Berbeda dengan Penina, Hana adalah gambaran orang kecil yang terpinggirkan. 

Ia tidak memiliki kuasa, koneksi, atau pengaruh dan tidak memiliki pembelaan sosial  dalam ukuran manusia, bahkan mengalami tekanan psikologis yang mendalam.

 Namun Hana memilih jalan iman: ia membawa luka dan ketidakadilannya ke hadapan Tuhan.


📖 “Dengan hati pedih Hana berdoa kepada TUHAN dan menangis tersedu-sedu.”

(1 Samuel 1:10)

Dalam perspektif hukum dan sosial, sikap Hana mengajarkan bahwa ketika sistem tidak berpihak dan keadilan terasa jauh, iman menjadi ruang terakhir yang memulihkan martabat manusia. Doa bukan pelarian, melainkan kekuatan moral untuk bertahan dan tetap benar.

📖 “TUHAN dekat kepada orang-orang yang patah hati.”

(Mazmur 34:19)


Proses Melahirkan Kepemimpinan yang Takut Tuhan

Jawaban Tuhan atas doa Hana bukan hanya kelahiran seorang anak, tetapi lahirnya Samuel, seorang nabi, pemimpin rohani, dan penjaga moral bangsa Israel.

📖 “TUHAN ingat kepadanya…”

(1 Samuel 1:19)


Dari perspektif kepemimpinan, Samuel adalah produk dari proses, doa, dan penyerahan diri. Ia menjadi pemimpin yang tidak korup secara moral, tidak tunduk pada tekanan kekuasaan, dan berani menyuarakan kebenaran.

📖 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.”

(Amsal 1:7)


Bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi pemimpin yang lahir dari proses penderitaan, doa, dan integritas.

Refleksi bagi Bangsa, Gereja, dan Penegakan Hukum

Kisah Hana menjadi pesan kuat bagi bangsa ini:

hukum tanpa keadilan akan kehilangan wibawa

kepemimpinan tanpa moral akan kehilangan kepercayaan

kekuasaan tanpa takut Tuhan akan kehilangan arah

📖 “Jika keadilan ditegakkan, damai sejahtera akan menjadi hasilnya.”

(Yesaya 32:17)


Gereja dipanggil bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi penjaga suara moral, pendoa bagi bangsa, dan pengingat bahwa keadilan sejati bersumber dari Tuhan.

📖 “Carilah kesejahteraan kota… dan berdoalah untuk kota itu.”

(Yeremia 29:7)

Mari kita merenungkan, 

Proses yang sedang dialami bangsa ini bukan akhir dari segalanya. Seperti Hana, Tuhan sedang bekerja dalam diam, membentuk generasi dan pemimpin yang takut akan Tuhan.

📖 “Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan.”

(Roma 8:18)

✍️ Penulis:

PS. Adv. Horas Sianturi, SH., MH., MTh.

Ketua Sinode Gereja Cahaya Kemuliaan (GCK)

Lebih baru Lebih lama