Siapa Nama Tuhan ?


Ketua Sinode Gereja Cahaya Kemuliaan
Kota Pematangsiantar

 YESUS, YESHUA, DAN MESIAS: MEMAHAMI NAMA TUHAN DALAM TERANG IMAN KRISTEN

 

Salam Sejahtera. salam Hormat.....

kepada kita umat Tuhan yang rindu akan Kebenaran Firman.

 

Di tengah perkembangan berbagai aliran dan ajaran demi ajaran saat ini. ada saja aliran  yang  muncul atau kelompok yang mengajarkan bahwa nama "Yesus" tidak benar, dan hanya nama "Yeshua HaMashiach" atau "Yesus Amasiah" yang sah. 


Mereka menolak penggunaan kata "Yesus" dan menganggapnya sebagai penyimpangan.

 

Hal ini sering menimbulkan kebingungan di kalangan orang percaya.


 Lalu, bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini? 

Apakah benar keselamatan bergantung pada cara mengucapkan nama Tuhan?


Ijinkan  Artikel ini mengajak kita memahami kebenaran Firman Tuhan secara alkitabiah dan seimbang.

 

1. Asal-Usul Nama Yesus

 

Nama Yesus berasal dari bahasa Ibrani Yeshua (ישוע), yang berarti "YHWH menyelamatkan". 

Nama ini adalah bentuk pendek dari Yehoshua (יהושע)—


nama yang sama digunakan oleh Yosua dalam Perjanjian Lama.

 

Perlu kita ketahui Bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, sehingga nama Yeshua ditulis sebagai Iēsous (Ἰησοῦς). 


Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi Iesus, dan dalam bahasa Indonesia menjadi Yesus.

 

Jadi:

Yesus = Iesus = Iēsous = Yeshua

Semua menunjuk kepada Pribadi yang sama, dan tidak ada yang salah dengan nama "Yesus".


 

2. Mengapa Ada Aliran yang Menolak Nama "Yesus"?

 

Beberapa kelompok menolak nama "Yesus" karena alasan berikut:

 

- Pemahaman yang Keliru tentang Terjemahan: 

Mereka menganggap nama Tuhan tidak boleh diterjemahkan, padahal Perjanjian Baru sendiri ditulis dalam bahasa Yunani.


 Jika terjemahan dianggap salah, maka seluruh Perjanjian Baru akan menjadi tidak sah, hal yang tidak sesuai dengan fakta.


- Teori yang Tidak Alkitabiah:

 Ada yang mengaitkan nama "Yesus" dengan dewa Zeus. 

Namun, para ahli bahasa telah membuktikan bahwa "Iēsous" berasal dari "Yeshua", bukan dari Zeus.


- Penekanan Berlebihan pada Lafal: Sebagian kelompok mengajarkan bahwa doa hanya sah jika menyebut "Yeshua" atau "Yahshua", menjadikan iman bergantung pada bunyi kata bukan pada hubungan dengan Tuhan. Hal ini dapat mengarah pada legalisme rohani.

 

3. Arti "Mesias", "Kristus", dan "Amasiah"

 

Kata "Mesias" berasal dari bahasa Ibrani Mashiach (משיח), yang berarti "Yang Diurapi". Dalam bahasa Yunani, istilah ini menjadi Christos, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Kristus atau Mesias.

 

Istilah "Amasiah" atau "HaMashiach" hanyalah bentuk ejaan lain dari "Mesias" dengan makna yang sama. Berikut ringkasannya:

 

Bahasa Istilah 

Ibrani Mashiach 

Yunani Christos 

Indonesia Kristus / Mesias 

 

Semua menunjuk kepada Yesus sebagai Juruselamat.

 

4. Fokus Alkitab: Iman, Bukan Bunyi Nama

 

Alkitab tidak mengajarkan bahwa keselamatan bergantung pada bahasa atau cara pengucapan nama. 

Firman Tuhan berkata:

"Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13)

 

Ayat ini tidak berbicara tentang cara pengucapan, tetapi tentang iman kepada Pribadi Tuhan. Yesus sendiri berkata:

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6)

 

Yang menyelamatkan adalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, bukan ejaan atau pelafalan nama-Nya.

 

5. Teladan Gereja Mula-Mula

 

Pada hari Pentakosta, Injil diberitakan dalam berbagai bahasa:

"Mereka masing-masing mendengar rasul-rasul berkata-kata dalam bahasanya sendiri." (Kisah Para Rasul 2:6)

 

Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Tuhan menggunakan berbagai bahasa untuk menyampaikan pesan keselamatan dan tidak membatasi diri pada satu bahasa saja.

 

6. Bahaya Ajaran yang Terlalu Eksklusif

 

Ajaran yang mengharuskan satu bentuk pelafalan nama sering membawa dampak negatif, seperti:

 

- Menimbulkan kesombongan rohani

- Menghakimi gereja atau sesama percaya lain

- Memecah tubuh Kristus

- Mengaburkan esensi Injil kasih karunia

 

Yesus berdoa agar umat-Nya menjadi satu (Yohanes 17:21), bukan terpecah karena perbedaan istilah atau pelafalan nama.

 

7. Sikap Orang Percaya yang Benar

 

Sebagai orang Kristen, sikap yang benar adalah:

✅ Menghormati akar Ibrani dari iman kita

✅ Menggunakan nama Yesus dengan iman yang tulus

✅ Tidak menghakimi sesama percaya karena perbedaan pandangan tentang pelafalan nama

✅ Fokus pada hidup yang berkenan kepada Tuhan

 

Yang terpenting bukan bagaimana kita menyebut nama-Nya, tetapi bagaimana kita hidup bagi-Nya.

 

Kesimpulan

 

Nama "Yesus" bukan nama yang salah, dan nama "Yeshua" juga tidak lebih sakral. Istilah "Mesias", "Kristus", dan "Amasiah" memiliki makna yang sama—semua menunjuk kepada satu Pribadi: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia.

 

Keselamatan tidak ditentukan oleh bunyi kata atau cara menyebut nama-Nya, tetapi oleh iman yang sejati kepada Yesus.

 

 

Marilah kita menjaga kemurnian iman, tidak terjebak pada perdebatan yang tidak membangun, tetapi terus bertumbuh dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Tuhan.

 

"Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, serta kuat dalam iman sebagaimana kamu telah diajarkan, penuh dengan sukacita yang penuh syukur." (Kolose 2:7)

 

Tuhan Yesus memberkati. 🙏

Penulis

Pdt. Adv. Horas Sianturi SH., MH., MTh.

Ketua Sinode, Gereja Cahaya Kemuliaan

Lebih baru Lebih lama