MAKNA SIMBOLIK DALAM PERTUNJUKKAN KUDA LUMPING -->
AYO IKUTI PROTOKOL KESEHATAN - CEGAH PENYEBARAN COVID-19 DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI

Iklan

MAKNA SIMBOLIK DALAM PERTUNJUKKAN KUDA LUMPING

Tuesday, November 22, 2022

 


Fr. Kevin Mahulae


Pengantar

Kuda lumping ialah suatu tarian tradisional suku Jawa yang masih bertahan hingga kini. Dalam sebuah pertunjukkan kuda lumping ini, membutuhkan sebuah kuda tiruan yang terbuat dari bambu sebagai alat utama dalan proses pembuatan. Salah satu faktor penentu pertunjukkan ini masih bertahan ialah persebaran orang Jawa di Indonesia.


Pertunjukkan kuda lumping merupakan pertunjukkan yang lengkap. Sebab dalam setiap pertunjukkannya itu membutuhkan perlengkapan yang banyak. Perlengkapan yang banyak inilah yang menjadi keberhasilan untuk pertunjukkan kuda lumping dan didalam pertunjukkannya terdapat makna simbolik. Makna simbolik itu terdapat dalam perlengkapan yang ditunjukkan dalam sebuah pertunjukkan kuda lumping tersebut.


Makna simbolik yang tersirat ini tidak semua orang mampu melihatnya dan akhirnya makna itu secara perlahan menghilang. Namun hal penting yang akan dilakukan adalah menemukan makna simbolik itu ditemukan lewat para antropolog yang mempelajari makna-makna simbolik. Maka dalam tulisan ini, saya akan belajar untuk melihat makna simbolik dari pertunjukkan.


Kuda Lumping

Kuda lumping merupakan suatu pertunjukkan yang menonjolkan peran seseorang menggunakan properti kuda. Pertunjukkan ini mau mengingatkan kita pada sebuah sejarah dalam suku jawa yakni perjuangan orang jawa untuk melawan serangan musuh zaman dulu.


Dalam pertunjukkan kuda lumping, para pemeran akan menggambarkan bahwa para pejuang orang jawa zaman dahulu itu adalah seorang pejuang yang perkasa yang sedang menaiki kuda untuk melawan serangan musuh. Maka tak heran jika kita melihat orang yang menampilkan pertunjukkan ini memiliki Gerakan yang dinamis dan mempunyai ritme untuk menunjukkan bahwa seorang prajurit yang sedang berjuang.


Para pemeran biasanya akan membawa properti lainnya berupa alat-alat tradisional suku jawa seperti pedang. Mengingat kembali bahwa senjata ini memiliki alat yang sedikit, maka kita akan melihat perjuangan orang jawa yang menggunakan unsur mistik yang meminta kekuatan yang lebih dari leluhur. Hal ini mau menunjukkan juga bahwa pada zaman dahulu orang-orang zaman dahulu memiliki hubungan yang kuat dengan para leluhur yang sudah lama meninggal. 


Dalam perkembangan zaman saat ini yang sudah dipengaruhi oleh dunia modern, sehingga pertunjukkan kuda lumping ini dipandang sebagai sebuah pertunjukkan yang menampilkan sebuah hiburan untuk orang yang menonton atau melihatnya. Pada zaman sekarang ini, pertunjukkan kuda lumping sering ditampilkan dalam acara-acara yang membutuhkan penghiburan. Namun tak bisa dilepas bahwa masih ada juga beberapa pertunjukkan yang masih tetap mempertahankan keaslian dari pertunjukkan kuda lumping yang memperlihatkan unsur mistik didalamnya. Unsur inilah yang menjadi tontonan yang menarik untuk melihat makna dari pertunjukkan kuda lumping ini. 


Yang menjadi unsur keunikan lainnya yang terdapat dalam pertunjukkan kuda lumping ini ialah gerakan yang mempunyai ritme didalamnya. Pada awal mula gerakan yang ditampilkan penari adalah gerakan yang mengalir dan lembut dalam setiap gerakan. Unsur mistik tidak langsung dihadirkan di awal pertunjukkan. Ritme yang tedapat dalam tarian kuda lumping ini dinamis yang selalu ada perubahan yang terjadi dalam setiap gerakan. Ketika di awal pertunjukkan dimulai, gerakan yang akan ditampilkan ialah gerakan yang bersemangat dan gerakan yang cepat, namun disini tidak lama lagi akan terdapat unsur mistik dari pertunjukkan kuda lumping ini. Unsur mistik ini akan tampak apabila pemerannya sudah mulai melakukan gerakan yang diluar dari nalar manusia.


Gerakan itulah yang disebut dengan kerasukan. Para pemeran kuda lumping yang mengalami kerasukan ini akan meminta berbagai macam bentuk permintaan yang akan disajikan. Namun ada yang melakukan seperti memakan pecahan kaca, memakan bara api atau bahkan berjalan di bara api. Itu semua dilakukan oleh pemeran secara tidak sadar. Unsur dari mistik itu memiliki kekuatan untuk menggambarkan bahwa itulah perjuangan orang Jawa pada zaman dulu menggunakan kekuatan mistik atau magis. Kekuatan seperti itu tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Kekuatan seperti itu memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang memerankan pemain dari kuda lumping. 

Makna Yang Terkandung dalam Pertunjukkan Kuda Lumping


Makna yang boleh didapat dari pertunjukkan seni ini adalah makna simbolik dan keindahan yang terkandung dalam pertunjukkan kuda lumping. Namun makna yang saya dapat ini akan berbeda dari yang lainnya. Sebab setiap orang akan melihat makna yang berbeda saat melihat pertunjukkan ini.


Pemaknaan dari kuda lumping ini tergantung dari otang yang melihatnya. Apalagi pemaknaan ini akan berbeda dengan orang-orang yang bersuku Jawa. Boleh dikatakan bagi suku-suku lain yang melihat pertunjukkan ini mungkin hanya sebagai hiburan. Namun kita dapat melihatnya dengan memahami pemaknaan dari seni secara terus-menerus. Ini merupakan kunci untuk kita dapat meliihat makna simbolik dan keindahan yang ada dalam pertunjukkan kuda lumping ini. 

Makna Simbolik


Tanda simbolik biasanya mengandung hubungan yang erat antara yang subjektif dan yang objektif. Simbol ini mau menunjukkan arti sesungguhnya yang menjadi simbol kesadaran. Penjelasan ini mau mengatakan bahwa memaknai simbol itu sangat perlu dan menghidupi simbol juga perlu secara mendalam.



Seorang Antropolog bernama Anthony Bridge mengatakan bahwa simbol dapat dikatakan hidup atau mati saat menunjuk pada diri sendiri secara mendalam. Namun yang menjadi kendala ialah orang-orang tidak bisa melihat lebih jauh makna simbol yang ada dan simbol yang ada hanya berhenti pada pertunjukkan saat itu juga. Sehingga makna simbol di dalam pertunjukkan kuda lumping ini menjadi sia-sia saja. Kenyataannya dapat dilihat ketika ada pertunjukkan kuda lumping, kita akan melihat segala perlengkapan yang ada itu hanya sebuah pelengkap yang tidak ada maknanya yang termuat di dalamnya.


Mengenai pendapat dari seorang antropolog itu hendak menyinggung soal matinya simbol sebenarnya akibat dari manusia yang tidak mau memahami dan mengerti makna yang ada dalam suatu karya seni. Tindakan atas sikap ketidakpedulian ini bisa jadi terjadi karena pemikiran modern yang ada didalamnya. Memang sisi buruk dari perkembangan zaman ialah pengaruh dari kreativitas pola berpikir dari manusia yang melihat tradisi yang tidak lagi mendalam.


Kebudayaan yang kompleks menyingkapkan sebuah integrasi etos dari pandangan hidup. Hal ini tampak dalam salah satu unsur dasar dari bentuk-bentuk kesenian dan menjadi upacara religius. Simbol yang kompleks juga dapat dilihat dari tarian kuda lumping ini. Simbol yang ada tersebar dalam semua kompenen di dalamnya. Seperti busana, iringan musik yang menyiratkan sebuah makna. Keberagaman pakaian yang ada juga mau melambangkan bahwa seorang prajurit itu perlu segala sesuatu yang mendukungnya untuk melawan serangan musuh.


Keberagaman dari busana menyimbolkan keindahan dari aneka ragam warna yang bersatu untuk menggabungkan semua warna menjadi indah. Maka sangat dihindarkan dalam pertunjukkan itu menggunakan satu warna saja. Sebab hal itu akan memunculkan kebosanan bagi orang yang akan menonton atau melihatnya.


Begitu pula dengan musik pengiring dalam pertunjukkan. Musik yang lengkap berguna untuk memeriahkan pertunjukkan dan menampakkan bahwa adanya keharmonisan serta kesakralan agar tercipta suasana karya seni yang indah dan dinikmati semua orang yang melihatnya. 


Makna Keindahan atau Estetik

Unsur keindahan dalam sebuah karya seni itu menjadi syarat agar dianggap sebagai suatu karya seni. Unsur keindahan dalam pertunjukkan kuda lumping ini terdapat dalam keselarasan dalam gerakan, iringan, busanaa dan perlengkapan lainnya yang mendukung pertunjukkan itu. Sebab tanpa ada keselarasan semua unsur, pertunjukkan kuda lumping akan kehilangan keindahan yang ada. 


Unsur pertama dari keindahan pertunjukkan kuda lumping ialah pakaian atau busana. Pakaian serta busana dalam pertunjukkan juga harus memerlukan tata rias untuk mendukung keindahan di dalamnya. Pakaian atau busana yang digunakan dalam pertunjukkan ialah selendang, apok, gelang, sabuk hias, rompi dan ikat kepala. Kedua adalah gamelan. Unsur keindahan yang diinginkan ialah keselarasan bunyi yang dihasilkan oleh gamelan. Gamelan yang biasa digunakan dalam pertunjukkan adalah gong, kendang, saron, kempul, bonang dan lain sebagainya. Makna perangkat gamelan ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara Teknik dan kebudayaan. Sebab tanpa Teknik, kebudayaan tidak akan mungkin tetapi Teknik yang berlebihan juga akan menghancurkan kebudayaan itu.


Unsur ketiga ialah keindahan dari gerakan. Dalam menampilkan pertunjukkan kuda lumping, bukan hanya musik yang membutuhkan keselarasan. Namun, gerak dalam pertunjukkana juga diperlukan. Akan tampak aneh dan buruk bila tidak ada keselaran dalam gerak. Keselarasan gerakan bisa membuat semangat penonton yang sedang menyaksikan pertunjukkan ini. 


Penutup

Kuda lumping merupakan tarian tradisonal yang berasal dari suku Jawa dan masih dipertunjukkan hingga saat ini. Ada banyak memang yang menganggap bahwa pertunjukkan ini sebagai sarana penghibur yang seakan tidak memiliki makna. Hal ini terjadi karena pengaruh budaya barat yang memberi aura negative kepada penerima. Namun sebenarnya ada banyak makna di dalam pertunjukkan kuda lumping ini. Maka kita perlu melihat dengan teliti dan berdiskusi serta belajar dari banyak media atau orang untuk mengetahui makna terdalam dari pertunjukkan kuda lumping ini. Tujuannya ialah agar kita tidak kehilangan unsur makna dari pertunjukkan kuda lumping.(Red-SP.ID/Jes)