Ketua MUI K.H. Cholil Nafis, Yahya Waloni Bukan Ustad Berstandarisasi MUI -->
AYO IKUTI PROTOKOL KESEHATAN - CEGAH PENYEBARAN COVID-19 DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI

Iklan

Ketua MUI K.H. Cholil Nafis, Yahya Waloni Bukan Ustad Berstandarisasi MUI

Minggu, 29 Agustus 2021

(Image/Gambar) : Ketua MUI K.H. Cholil Nafis, Yahya Waloni Bukan Ustad Berstandarisasi MUI

 

Jakarta - Sumutpos.id : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis ikut angkat bicara soal kasus penodaan agama yang dilakukan pendakwah kontroversial Ustad Yahya Waloni.

 

Pihak MUI pun dengan tegas menyebut Yahya Waloni bukan Ustad lantaran belum mengerti soal agama.

 

Hal itu disampaikan Cholil Nafis saat tampil sebagai narasumber di program tvOne, seperti dilihat pada Minggu 29 Agustus 2021.

 

Menurut Cholil Nafis, gelar ustaz seharusnya tak diberikan ke sembarang orang.

 

Ia pun mencontohkan, di timur tengah status tersebut hanya diberikan kepada penceramah yang telah menyelami ilmu agama di kolam akademik.

 

“Ini gampangnya saja orang disebut ustad. Kalau di Timur tengah, ustadnya sekelas profesor. Di sini, orang sering ke masjid lalu jadi takmir masjid, sudah jadi ustaz. Jadi, ya men-downgrade lah, memperendah istilah ustad itu sendiri,” ujar Cholil, dikutip terkini.id dari Gelora, Minggu 29 Agustus 2021.

 

Cholil juga mengingatkan kepada orang-orang yang baru memeluk agama Islam atau mualaf agar tak menjelek-jelekkan agama yang pernah mereka anut sebelum menjadi muslim.

 

“Ini yang sering saya sampaikan bagi teman-teman yang baru jadi mualaf, sampaikan yang tahu, yang pasti benarnya. Yang kemudian, jangan menjelekkan agama yang pernah dipeluknya. Apalagi membenturkan agama yang baru yang diyakini dengan agama yang pernah dipeluknya itu,” tuturnya.

 

Cholil juga menjelaskan bahwa MUI memiliki standar bagi penceramah di Indonesia.

 

Meski demikian, pihaknya tak bisa melarang seseorang untuk jadi penceramah atau dipanggil ustad.

 

Pasalnya, kata Cholil, tidak ada aturan yang membuat MUI mesti melarang orang-orang menjadi pencemah ataupun dipanggil ustad.

 

Apalagi, aktivitas keagamaan di kehidupan masyarakat sehari-hari juga tak bisa dipantau hingga dilarang.

 

“MUI memberikan standar kompetensi bagi penceramah, karena kami tidak bisa melarang penceramah. Mereka bikin acara sendiri, mengundang siapa yang diundang, tidak bisa kita batasi,” jelasnya.

 

Hal itu, menurut Cholil, berbeda dengan negara-negara muslim tetangga Indonesia yang memang memiliki aturan terkait penceramah.

 

“Berbeda dengan negara sebelah seperti di Malaysia atau Brunei memang ada ketentuannya. Di kita tidak bisa melarang,” ungkapnya.

 

Mengutip Hops.id, Cholil Nafis dalam tayangan program tersebut juga menjawab pertanyaan presenter soal Yahya Waloni apakah pantas disebut ustad atau tidak.

 

Cholil pun menegaskan bahwa Yahya Waloni bukan ustaz yang sesuai dengan standar MUI.

 

“Kalau itu (Yahya Waloni) bukan ustad berstandar MUI. Kalau di luar disebut ustaz sangat luas tentang terminologi ustad,” tegasnya.

 

Oleh karena itu, pihak MUI menyarankan kepada umat Islam agar mengundang penceramah yang betul-betul mengerti agama dan bukannya pendakwah yang kerap memaki-maki agama lain seperti Yahya Waloni.

 

“Undanglah penceramah-penceramah yang memberikan inspirasi.
Penceramah-penceramah yang memang mengerti agama. Bukan yang memprovokasi,” ujarnya.

 

(RED-SP.ID/Montt)