RAKYAT BERDAULAT, BANGSA KUAT

 



Artikel Rohani Kebangsaan

"RAKYAT BERDAULAT, BANGSA KUAT"


Pematangsiantar,Sumutpos.id 16/01/2026, - Rakyat berdaulat adalah rakyat yang memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, sementara bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu dan teguh pada nilai-nilai kemerdekaan serta keadilan. 


Dalam perspektif rohani—baik bagi individu maupun bangsa—kita diajarkan bahwa untuk mencapai kedua hal tersebut, 

kita harus hidup sesuai dengan ajaran Tuhan yang menciptakan kita dalam keanekaragaman, namun tetap satu dalam iman dan tujuan bersama.


1. Rakyat Berdaulat dalam Perspektif Alkitab


Alkitab mengajarkan pentingnya kebebasan yang berakar pada kebenaran. Yesus berkata, "Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:31-32).


Kebebasan yang dimaksud bukan sekadar kebebasan fisik, melainkan kebebasan yang datang dari pengetahuan akan kebenaran dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang tidak terbelenggu oleh ketidakadilan, melainkan hidup dalam kebenaran dan kasih Tuhan.


Selain itu, kita diajarkan untuk saling menghormati. Roma 13:1 menyatakan bahwa kita harus menghormati otoritas yang ada, namun otoritas tersebut wajib berlaku adil dan memihak pada kesejahteraan rakyat. 

Sebagai rakyat yang berdaulat, kita memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan, namun dalam konteks kebangsaan, pilihan tersebut harus berdasarkan prinsip-prinsip moral dan keadilan yang selaras dengan ajaran Tuhan.


Contoh Positif dan Dampak Negatif di Indonesia


- Positif: Pada Pemilu 2019 dan 2024, rakyat Indonesia secara damai menggunakan hak pilih untuk menentukan pemimpin negara dan wakil rakyat. 

Hal ini menunjukkan rakyat yang mampu menentukan nasib bangsa sendiri, yang berdampak pada legitimasi pemerintahan dan semangat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. 


Selain itu, gerakan masyarakat yang mengawal kebijakan publik 

(seperti dalam penyusunan Undang-Undang yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat) 

menjadi bukti rakyat yang berdaulat mampu mengontrol arah perkembangan bangsa.


- Negatif: Jika rakyat berdaulat namun tidak bertindak berdasarkan kebenaran dan keadilan, dapat terjadi penyalahgunaan hak seperti menyebarkan berita bohong untuk mempengaruhi opini publik, atau memilih pemimpin hanya karena kepentingan pribadi atau golongan.


Contohnya, kasus penyebaran hoaks selama masa kampanye politik yang menyebabkan konflik antar kelompok masyarakat, serta praktik politik uang yang merusak esensi demokrasi.


2. Bangsa yang Kuat dalam Perspektif Kristen


Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan fisik atau ekonomi, melainkan lebih dari itu—dari kekuatan moral dan spiritual. 

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang teguh dalam iman dan integritas, serta saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.


Alkitab mengingatkan, "Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki yang benar! Dan tetap kuat!" (1 Korintus 16:13).


Kekuatan bangsa terletak pada kesatuan hati dan pikiran rakyatnya, serta kesediaan untuk berjuang bersama demi kebaikan bersama. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 133:1, "Betapa baik dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup bersama dengan rukun!"


Kesatuan ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik atau wilayah, melainkan juga pada satu tujuan dan cita-cita untuk mewujudkan keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan rakyat.


3. Menjaga Kesejahteraan Rakyat dan Martabat Bangsa


Menjaga kesejahteraan rakyat adalah tugas utama setiap pemimpin  bangsa.

Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri 

(Matius 22:39)—yang mencakup kepedulian terhadap kebutuhan dasar orang lain, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan.


Negara yang baik adalah negara yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, di mana setiap orang tidak hanya sekadar hidup, tetapi hidup dengan martabat.


Penting untuk diingat bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak hanya fokus pada kekuatan militer atau ekonomi, melainkan juga memiliki keberpihakan pada yang lemah dan miskin. 

Seperti yang tertulis dalam Amsal 31:8-9:

"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka."


4.Penegakan Hukum yang       Berkeadilan


Bangsa yang berdaulat dan kuat tidak dapat terlepas dari penegakan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu. 

Penegakan hukum yang tepat akan menjaga keseimbangan dalam masyarakat serta menegakkan keadilan bagi semua pihak.


Alkitab menyatakan, "Belalah orang yang tertindas, lakukanlah yang adil dan benar" (Yesaya 1:17). Keadilan harus ditegakkan dengan seadil-adilnya, tanpa pilih kasih, dan selalu mengutamakan yang benar dan baik bagi seluruh rakyat.


Contoh Positif dan Dampak Negatif Ketika Rakyat Tidak Berdaulat di Indonesia


- Positif (Upaya Mengembalikan Kedaulatan Rakyat): Sejarah Reformasi 1998 adalah bukti rakyat yang bangkit untuk mengembalikan kedaulatan yang telah tergeser. Gerakan tersebut berhasil mengakhiri rezim otoriter, membuka ruang kebebasan berbicara, berkumpul, dan menyampaikan pendapat, yang berdampak pada lahirnya sistem demokrasi yang lebih terbuka dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

- Negatif: Sebelum Reformasi, ketika rakyat kurang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan hak-haknya tidak terjamin, terjadi berbagai masalah seperti korupsi yang meluas, penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat, serta kesenjangan sosial yang semakin lebar. Contohnya, pembangunan yang hanya menguntungkan sebagian kalangan dan daerah tertentu, serta penindasan terhadap suara yang berbeda pendapat, yang menyebabkan ketidakpuasan masyarakat dan melemahkan solidaritas bangsa.


5. Peran Gereja dalam Mendukung Rakyat Berdaulat dan Bangsa Kuat di Indonesia


Dalam konteks Indonesia, gereja memiliki peran penting sebagai mitra bangsa dalam mewujudkan rakyat berdaulat dan bangsa yang kuat, berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen.


- Mendidik Masyarakat dan atau warga Gereja untuk Menjadi Warga Negara yang Bertanggung Jawab: Gereja-gereja di Indonesia secara teratur menyelenggarakan pembinaan agama dan pendidikan masyarakat tentang nilai-nilai moral, integritas, serta tanggung jawab sebagai warga negara. 

Misalnya, melalui kajian Alkitab, pelatihan kepemimpinan, dan penyuluhan tentang hak dan kewajiban rakyat dalam demokrasi, gereja membantu membentuk rakyat yang cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan hak pilih serta berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa.

- Menjadi Suara bagi yang Terdahulu dan Tertindas: Sejalan dengan ajaran Yesus yang mengutamakan yang lemah, gereja di Indonesia aktif terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial. Banyak gereja membuka pusat pelayanan masyarakat, memberikan bantuan makanan dan tempat tinggal bagi korban bencana alam atau masyarakat miskin, serta menyuarakan kekhawatiran tentang masalah seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Contohnya, peran gereja dalam memberikan dukungan pada upaya pemulihan masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah di Indonesia, serta dalam mengadvokasi kebijakan publik yang mengutamakan kesejahteraan rakyat.


- Membangun Kesatuan dan Kerukunan Antar Umat Beragama: Sebagai bagian dari masyarakat beragam agama di Indonesia, gereja berperan dalam memperkuat toleransi dan persatuan bangsa. Melalui dialog antarumat beragama, kegiatan gotong royong bersama, dan kerja sama dalam program pembangunan masyarakat, gereja membantu menciptakan suasana damai dan harmonis yang menjadi dasar kekuatan bangsa. Hal ini sejalan dengan ajaran Mazmur 133:1 tentang keindahan persatuan antar saudara.


- Mengawal Pemerintahan dengan Bijaksana: Gereja tidak berperan sebagai lembaga kekuasaan politik, namun berperan sebagai mitra yang konstruktif dalam mengawal jalannya pemerintahan. Dengan menyampaikan masukan yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, gereja membantu pemerintah untuk membuat kebijakan yang menguntungkan seluruh rakyat. 

Pada saat yang sama, gereja juga mengajarkan masyarakat untuk menghormati otoritas yang sah, selama otoritas tersebut menjalankan tugasnya dengan adil dan benar sesuai dengan Roma 13:1.


 


Sebagai rakyat yang berdaulat, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan kebenaran dan keadilan, menjaga kesejahteraan bersama, serta hidup dalam kesatuan. Sebagai bangsa, kita dipanggil untuk menjadi bangsa yang kuat bukan hanya dari sisi fisik atau ekonomi, tetapi juga dari kekuatan moral dan spiritual.


Kita harus menjaga nilai-nilai kebangsaan dengan dasar kasih Tuhan, keadilan, dan kesatuan, sehingga dapat menjadi bangsa yang dihormati dan diberkati oleh-Nya. Dengan demikian, "Rakyat Berdaulat, Bangsa Kuat" bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari—baik sebagai individu maupun sebagai satu bangsa.


Tuhan memberkati bangsa kita dengan damai sejahtera dan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan yang datang.


Salam Hormat,

Pdt.Adv. Horas Sianturi SH, MH, MTh.

Ketua Sinode Gereja Cahaya Kemuliaan

Lebih baru Lebih lama