DPRD Simalungun dan Warga ' Kecewa' Sampah Berserakan di Tepi Jalan Objek Wisata Parapat -->
AYO IKUTI PROTOKOL KESEHATAN - CEGAH PENYEBARAN COVID-19 DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI

Iklan

DPRD Simalungun dan Warga ' Kecewa' Sampah Berserakan di Tepi Jalan Objek Wisata Parapat

Rabu, 28 Februari 2024



Parapat, Sumutpos.id - DPRD Simalungun mengatakan ' Kecewa' dengan maraknya berserak tumpukan Sampah di sejumlah pembuangan sampah sementara di sepanjang ruas jalan utama dan jalan arteri objek Wisata Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.  


Mirisnya, meski biaya pengangkutan sanpah dan kru truck di tampung di setiap Kecamatan. Akan tetapi pimpinan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon tidak ada upaya untuk membersihkan tumpukan sampah dan terkesan tutup mata melihat tumpukan sampah di sepanjang jalan objek wisata Parapat. 


Melihat ke kumuhan itu, anggota DPRD Simalungun pun angkat bicara dan mengatakan Kecewa kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun.  


"Kontrak kerja tenaga kebersihan tidak dilanjutkan lagi karena anggarannya di APBD Simalungun 2024 telah di hapus semua oleh Pemkab Simalungun, sehingga tumpukan sampah di beberapa titik ruas jalan utama dan arteri Kota Wisata Parapat menggunung hingga berserakan di badan jalan dan terlihat kotor serta kumuh," ungkap Ketua Komisi IV DPRD Simalungun, Maraden Sinaga pada Rabu, (28/2-2024).


Dijelaskan Maraden, Kotrak Kerja Tenaga Kebersihan untuk wilayah Kota Wisata Parapat telah berakhir Desember 2023 yang lalu dan tidak dilnjutkan lagi dengan alasan tidak ditampung di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Siamlungun 2024, tidak tahu apa penyebabnya.


"Semenjak awal tahun 2024, berbagai jenis sampah kerap tertumpuk dan menggunung di bak tempat pembuangan sampah sementara dan di depan toko-toko dan restoran sepanjang Jalan Utama dan arteri Kota Parapat sehingga tampak kumuh, kotor, dan aromanya tak sedap," katanya.


Maraden sangat menyangkan tindakan Pemerintah Kabupaten Simalungun yang mengahapus anggaran tenaga keberisahan di Kota Wisata Parapat. Padahal Kawasan Danau Toba yang di Parapat sebagai Ikon Pariwisata Kabupaten Simalungun.


"Kita menilai Pemkab Simalungun mengabaikan pesona wisata Parapat tentang 'kebersihan' karena kontrak kerja tenaga kebersihan tak dilajutkan. Kita mengakui para pegawai Kecamatan Girsang Sipanganbolon kerap menjadi pengangkut sampah, tetapi itu tidak cukup karena bukan pekerjaan mereka," pungkasnya,


Maraden juga menyingung bahwa Kecamatan Girsang Sipangan Bolon merupakan penyumbang Pendapatan Asli Daerah tetinggi ke 3 di Kabupaten Simalungun. Baik dari sektor pariwisata termasuk pajak hotel dan restoran.


"Selayaknya Pemkab Simalungun memberikan perhatian khusus ke Parapat. Apa masyarakat Parapat harus berdemo dulu ke Kantor Bupati!," ujarnya, 


Sementara, seorang warga P Manik mengatakan banyaknya tumpukan sampah disepanjang jalan objek wisata karena Camat setempat kurang respon dan peduli. 


" Harusnya, Camat harusnya ikut turun ke lapangan, sehingga bisa melihat langsung serta memberikan masukan atau sosialisasi kepada masyarakat bagaimana mengatasi sampah. Yang kita lihat, camat terkesan cuek atau tutup mata, beda jauh dengan camat sebelumnya yang mau turung ke lokasi, ya saya pribadi ikut Kecewa melihat kinerja Camat sekarang ini," ucap Manik. 


Sesuai hasil konfirmasi Awak Media ini ke kadis BLH Simalungun Daniel Silalahi mengatakan, " Setiap pihak Kecamatan memiliki biaya operasional truck sampah dan krunya," terangnya. 


Sementara , Saat dikonfirmasi Camat Girsang Sipangan Bolon Oslando H Parhusip terkait kekecewaan anggota DPRD Simalungun dan warga soal tumpukan sampah di sepanjang jalan objek wisata Parapat. 


" Operasional truk ada dianggaran, " aku Camat melalui whatSappnya. Namun ketika ditanya besaran anggaranya, Camat engan balas SMS kru media ini. Ada apa soal Anggaran itu ya?


(Red-SP.ID/Hery)