-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERPULUHAN DAN PERSEMBAHAN: UNGKAPAN KASIH, IMAN, DAN KESETIAAN KEPADA TUHAN

Senin, 13 Juli 2026 | Juli 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-13T15:06:49Z




PERPULUHAN DAN PERSEMBAHAN: UNGKAPAN KASIH, IMAN, DAN KESETIAAN KEPADA TUHAN

Nats Utama: Kejadian 14:20; Maleakhi 3:10; 

2 Korintus 9:7

Oleh Pdt.Adv. Horas Sianturi SH, MH, MTh.


Jakarta,Sumutpos.id - 13/07/2026- Dalam kehidupan orang percaya, perpuluhan dan persembahan sering menjadi topik yang menimbulkan berbagai pandangan. Ada yang melakukannya dengan sukacita, ada yang merasa terbeban, dan ada pula yang menjadi ragu karena melihat berbagai penyimpangan yang terjadi dalam pelayanan gereja.


Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab tentang perpuluhan? Apakah masih relevan? 

Dan bagaimana jika ada pemimpin rohani yang menyalahgunakannya?


Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali kepada Firman Tuhan.


Abraham: Memberi Karena Bersyukur kepada Tuhan


Tokoh pertama dalam Alkitab yang dicatat memberikan perpuluhan adalah Abraham.


Setelah memenangkan peperangan dan menyelamatkan Lot, Abraham bertemu dengan Melkisedek, imam Allah Yang Mahatinggi. Sebagai ungkapan syukur atas kemenangan yang Tuhan berikan, Abraham memberikan sepersepuluh dari hasil rampasan perang yang diperolehnya.


«"Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya." (Kejadian 14:20)»


Yang menarik, peristiwa ini terjadi jauh sebelum Hukum Taurat diberikan. Abraham tidak memberi karena paksaan hukum, melainkan karena hati yang penuh syukur dan penghormatan kepada Allah.


Abraham memahami bahwa kemenangan, kekuatan, dan berkat yang diterimanya berasal dari Tuhan.


Perpuluhan Abraham mengajarkan bahwa memberi kepada Tuhan adalah respons kasih dan ucapan syukur atas kebaikan-Nya.


Yakub: Memberi Sebagai Komitmen Iman


Cucu Abraham, yaitu Yakub, juga menunjukkan prinsip yang sama.


Ketika berada di Betel, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan memberikan janji penyertaan. Sebagai respons, Yakub bernazar:


«"Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu." (Kejadian 28:22)»


Yakub mengerti bahwa hidupnya berada dalam pemeliharaan Tuhan. Nazar perpuluhannya menjadi bentuk komitmen dan ketergantungan kepada Allah.


Maleakhi: Tuhan Melihat Kesetiaan Hati Umat-Nya


Dalam kitab Maleakhi, Tuhan menegur bangsa Israel yang telah lalai membawa perpuluhan dan persembahan.


Namun inti teguran Tuhan bukan semata-mata mengenai uang. Persoalan utamanya adalah hati umat yang telah menjauh dari-Nya.


Tuhan ingin umat-Nya belajar bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan harus dikelola dengan kesetiaan.


Perpuluhan menjadi salah satu bentuk pengakuan bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat.


Perjanjian Baru: Memberi dengan Sukacita


Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menegaskan:


«"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)»


Karena itu, inti pemberian orang percaya bukanlah paksaan, melainkan kasih.


Tuhan tidak melihat besar kecilnya jumlah yang diberikan, tetapi ketulusan hati yang memberi.


Janda Miskin: Ketulusan yang Menyentuh Hati Tuhan


Yesus memuji seorang janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan.


Secara manusia, jumlah itu sangat kecil. Namun di mata Tuhan, pemberian itu sangat berharga karena diberikan dengan iman dan pengorbanan.


Janda itu mengajarkan bahwa nilai persembahan tidak ditentukan oleh nominalnya, melainkan oleh hati yang menyerah kepada Tuhan.


Jemaat Makedonia: Murah Hati di Tengah Keterbatasan


Jemaat Makedonia hidup dalam kesulitan dan kemiskinan, tetapi mereka tetap memberi dengan sukacita untuk mendukung pelayanan Tuhan.


Mereka membuktikan bahwa kemurahan hati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh besarnya kasih kepada Tuhan.


Bahaya Ketika Perkara Rohani Dijadikan Komoditas


Walaupun Alkitab mengajarkan tentang memberi, Alkitab juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang menyalahgunakan perkara-perkara rohani demi keuntungan pribadi.


Hofni dan Pinehas


Hofni dan Pinehas, anak Imam Eli, menyalahgunakan jabatan imam untuk mengambil bagian persembahan yang bukan hak mereka.


Mereka menjadikan pelayanan sebagai sarana memuaskan kepentingan pribadi.


Akibatnya, Tuhan menghukum mereka dan keluarga Eli.


Bileam


Bileam memiliki karunia rohani, tetapi hatinya dikuasai oleh keinginan memperoleh upah dan keuntungan.


Karena cinta uang, ia menjadi contoh buruk tentang bagaimana seseorang dapat menyalahgunakan panggilan rohani demi kepentingan pribadi.


Perjanjian Baru menyebutnya sebagai "jalan Bileam", yaitu jalan keserakahan yang menyusup ke dalam pelayanan.


Gehazi


Gehazi, pelayan Nabi Elisa, mencoba mendapatkan keuntungan dari mujizat kesembuhan yang Tuhan lakukan atas Naaman.


Ia menggunakan pelayanan Tuhan sebagai kesempatan untuk memperoleh harta.


Tuhan menghukumnya karena sikap tersebut.


Simon si Penyihir


Simon mencoba membeli karunia Roh Kudus dengan uang.


Rasul Petrus menegurnya karena menganggap kuasa Allah dapat diperjualbelikan.


Perkara-perkara rohani tidak boleh menjadi barang dagangan.


Bagaimana Jika Ada Pendeta atau Gembala yang Menyalahgunakan Persembahan?


Pertanyaan ini sering muncul di hati banyak orang percaya.


Jawabannya sederhana namun penting: penyalahgunaan oleh manusia tidak membatalkan kebenaran Firman Tuhan.


Dosa Hofni dan Pinehas tidak membatalkan kekudusan persembahan.


Keserakahan Bileam tidak membatalkan kebenaran Allah.


Penyimpangan Gehazi tidak membatalkan kuasa Tuhan.


Demikian juga pada masa kini, jika ada oknum pemimpin rohani yang menyalahgunakan perpuluhan dan persembahan, mereka akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.


Namun kesalahan mereka tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk berhenti taat kepada Tuhan.


Ketika Abraham memberi perpuluhan, ia memberi kepada Tuhan melalui seorang imam. Fokusnya bukan manusia, melainkan Allah Yang Mahatinggi.


Demikian pula ketika kita memberi, fokus utama kita harus tetap kepada Tuhan.


Sikap yang Seimbang dan Alkitabiah


Sebagai jemaat, kita tidak dipanggil untuk menjadi naif.


Gereja harus memiliki integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.


Pemimpin rohani harus menjadi teladan dalam kejujuran dan kesetiaan.


Namun jemaat juga tidak boleh membiarkan kekecewaan terhadap manusia merusak hubungan mereka dengan Tuhan.

Jangan kehilangan iman karena kegagalan manusia.

Jangan meninggalkan ketaatan karena kesalahan orang lain.

Jangan berhenti memberi karena melihat penyimpangan yang dilakukan segelintir orang.


Tetaplah mengasihi Tuhan.

Tetaplah mendukung pekerjaan Kerajaan Allah.

Tetaplah memberi dengan hati yang tulus.

Tetaplah hidup dalam hikmat dan kebenaran.


Kesimpulan

Perpuluhan dan persembahan bukanlah cara membeli berkat Tuhan. Keselamatan dan kasih karunia tidak dapat dibeli dengan uang.


Namun perpuluhan dan persembahan dapat menjadi ungkapan kasih, syukur, iman, dan ketaatan kepada Tuhan.


Abraham memberi karena bersyukur.


Yakub memberi karena percaya.


Janda miskin memberi karena mengasihi Tuhan.


Jemaat Makedonia memberi karena memiliki hati yang murah.


Sebaliknya, Hofni dan Pinehas, Bileam, Gehazi, dan Simon si Penyihir menjadi peringatan bahwa perkara-perkara rohani tidak boleh dijadikan alat mencari keuntungan.


Pada akhirnya, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita berikan, tetapi juga mengapa kita memberikannya.


Tuhan tidak membutuhkan uang kita, tetapi Tuhan menghendaki hati kita.


Ketika hati kita menjadi milik-Nya, maka memberi bukan lagi menjadi beban, melainkan sukacita dan penyembahan kepada Raja segala raja.


Doa

Bapa di Surga, terima kasih atas segala berkat yang Engkau percayakan kepada kami. Ajarlah kami memiliki hati seperti Abraham yang bersyukur, seperti Yakub yang beriman, seperti janda miskin yang tulus, dan seperti jemaat Makedonia yang murah hati. Jauhkan kami dari hati yang tamak seperti Hofni, Pinehas, Bileam, dan Gehazi. Tolong para pemimpin rohani agar melayani dengan integritas dan takut akan Tuhan. Biarlah setiap persembahan dan pelayanan kami menjadi kemuliaan bagi nama-Mu saja. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.Naskah ini sudah cukup lengkap untuk dijadikan artikel rohani, renungan jemaat, bahan PA, atau khotbah 30–45 menit dengan tema: "Perpuluhan: Antara Kesetiaan kepada Tuhan dan Godaan Menjadikan Pelayanan sebagai Komoditas."

( RED-SP.ID/Tim-01 )

×
Berita Terbaru Update