-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Diduga Tercemar Limbah, Ribuan Ikan Milik Petani di Nagori Sahkuda Bayu Mati Massal, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah

Selasa, 14 Juli 2026 | Juli 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-14T04:56:02Z

 



Gunung Malela, SIMALUNGUN | Sumutpos.id – Ribuan ekor ikan budidaya milik petani di areal persawahan Nagori Sahkuda Bayu, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, dilaporkan mati secara massal pada Selasa (14/07/2026). Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh aliran air berwarna hitam pekat yang masuk ke kawasan persawahan melalui Sungai Bah Bolon.


Kematian ikan secara serentak itu mengakibatkan para petani mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Berbagai jenis ikan budidaya seperti ikan mas, nila, lele, dan bawal ditemukan mengapung dalam kondisi mati di kolam maupun petakan sawah yang dijadikan lokasi budidaya.


Para petani menduga air berwarna hitam pekat tersebut berasal dari limbah yang dibuang ke Sungai Bah Bolon oleh perusahaan pengolahan Sawit(PKS)yang berada di hulu sungai. Dugaan itu muncul karena perubahan warna air terjadi secara tiba-tiba sebelum ikan-ikan mulai mati.


Salah seorang petani, Surianto, mengaku sangat terpukul atas musibah yang dialami para pembudidaya ikan di wilayah tersebut. Menurutnya, kawasan budidaya ikan di Nagori Sahkuda Bayu mencapai sekitar 50 hektare, sehingga dampak yang ditimbulkan sangat luas.


> "Air hitam pekat yang kami duga berasal dari buangan PKS ke Sungai Bah Bolon telah menyebabkan ikan-ikan milik petani mati. Di sini ada sekitar 50 hektare lahan budidaya ikan. Kami benar-benar terpukul karena modal usaha sangat besar, sementara banyak petani yang meminjam uang dari bank untuk membesarkan ikan," ujar Surianto.




Ia juga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan yang menurutnya sudah berulang kali terjadi.


> "Ekonomi sudah sulit. Apakah pemerintah sengaja ingin membunuh kami? Kejadian seperti ini bukan baru sekali terjadi. Tolong buka mata pemerintah, terutama dinas terkait di Kabupaten Simalungun maupun Provinsi Sumatera Utara. Kami butuh perhatian dan tindakan nyata agar kejadian seperti ini tidak terus berulang," ungkapnya dengan nada kecewa.




Peristiwa tersebut memicu keresahan masyarakat, terutama para petani yang menggantungkan mata pencaharian dari usaha budidaya ikan. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi air Sungai Bah Bolon sekaligus mengambil sampel guna mengetahui penyebab pasti kematian massal ikan tersebut.


Selain itu, masyarakat juga meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perikanan, serta aparat penegak hukum melakukan investigasi menyeluruh apabila ditemukan indikasi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat.


Para petani berharap ada langkah cepat dari pemerintah berupa penanganan terhadap dugaan pencemaran, bantuan bagi petani yang terdampak, serta penegakan hukum apabila terbukti terdapat pihak yang melakukan pembuangan limbah yang tidak sesuai ketentuan.


Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah maupun pihak perusahaan yang diduga berada di kawasan hulu Sungai Bah Bolon terkait penyebab berubahnya warna air dan kematian massal ikan tersebut. Oleh karena itu, dugaan bahwa air hitam berasal dari limbah perusahaan masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi dari instansi yang berwenang.


Reporter: Dedi Sinaga

×
Berita Terbaru Update