Sumutpos id. – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, suasana kebersamaan dan kearifan lokal di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) terasa begitu kental. Di tengah kemeriahan menjelang ibadah kurban, satu tradisi unik yang menjadi ciri khas masyarakat setempat masih terus dijaga dan dilestarikan hingga kini, yakni tradisi Mangalomang.
Tradisi Mangalomang bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan warisan budaya turun-temurun yang mengandung nilai filosofi tinggi tentang persaudaraan, rasa syukur, dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Tabagsel mampu menyatukan nilai-nilai agama dengan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat, menciptakan harmoni yang indah saat merayakan momen besar keagamaan seperti Idul Adha.
Secara makna, Mangalomang adalah kegiatan memasak beras ketan(sipulut) dengan menggunakan bambu dan dibakar bersampingan dengan api selama berjam-jam. Namun dalam konteks Idul Adha, tradisi ini memiliki makna yang lebih dalam dan spesial.
Tradisi Mangalomang adalah tradisi atau budaya membuat kuliner lemang secara gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat Mandailing di Sumatra Utara, termasuk di wilayah Tapanuli. Tradisi ini biasanya dilaksanakan untuk menyambut hari besar keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Berikut adalah beberapa detail penting dari tradisi ini mulai dari proses Pembuatan: Beras ketan dicampur dengan santan, sedikit garam, dan rempah seperti kemiri. Adonan ini dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang, lalu dibakar di atas bara api terbuka.
Tradisi ini kaya akan nilai budaya dan selain sebagai ajang pelestarian kuliner tradisional khas Sumatra, proses memasak yang memakan waktu hingga empat jam ini menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.
Mangalomang juga memiliki makna filosofis yaitu Kegiatan ini sering dimaknai sebagai wujud rasa syukur, kesabaran, dan simbol kebersamaan dalam menyambut momen kemenangan.
Bagi masyarakat Tabagsel, Mangalomang menjelang di hari kurban memiliki makna kebersamaan untuk melestarikan kearifan lokal. Seorang tokoh masyarakat di Kota Padangsidimpuan, mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi identitas tersendiri masyarakat Angkola dan Mandailing. Ia menjelaskan, Mangalomang sejatinya adalah wujud nyata dari ajaran Dalihan Natolu, di mana hubungan antar sesama harus selalu dijaga, dibina, dan dipererat.
"Tradisi Mangalomang ini sangat indah. Ini adalah bentuk nyata bahwa di darah kita mengalir rasa persaudaraan yang kuat. Di momen Idul Adha, saat kita mengingat pengorbanan Nabi Ibrahim A.S., kita pun diajak berkorban harta, berkorban waktu, dan berkorban perasaan untuk saling mengunjungi dan memaafkan satu sama lain. Sampai sekarang, tradisi ini masih sangat lestari, masih sangat terasa, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi budaya kita di Tabagsel," ujar Azhar Siregar.
Ia menambahkan, tradisi ini juga berfungsi sebagai perekat sosial. Di saat daging kurban besok dibagikan ke seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial, tradisi Mangalomang memperkuat makna tersebut dengan menyatukan hati dan jiwa seluruh warga.
Ditemui di sela-sela pekerjaannya di Kelurahan Sitamiang, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, salah seorang warga, Sahat Harahap, mengaku sangat senang karena tradisi ini tidak luntur oleh zaman. Baginya, Idul Adha di Tabagsel rasanya belum lengkap jika belum merasakan suasana Mangalomang.
"Kalau Idul Adha di sini, suasananya beda. Setelah shalat Id, saling mengunjungi, saling berbagi daging, bersalaman saling memaafkan. Ini tradisi yang harus kita jaga terus. Nilai kebersamaannya sangat kuat, rasanya damai sekali. Ini ciri khas kita, tradisi Mangalomang yang selalu hidup di hati masyarakat," ungkap Sahat dengan antusias.
Di tengah arus modernisasi yang kian berkembang, kelestarian tradisi Mangalomang ini membuktikan bahwa masyarakat Tabagsel tetap teguh memegang warisan leluhur. Tradisi ini menjadi pelengkap keindahan ibadah Idul Adha, di mana semangat berkurban, berbagi, dan bersaudara terasa semakin hidup, kental, dan bermakna mendalam.
Kini, lemang dan aroma daging kurban yang menggugah selera berpadu dengan hangatnya kunjungan antar warga, menjadikan perayaan Idul Adha 1447 H di Tapanuli Bagian Selatan sebagai momen yang tak hanya suci secara agama, namun juga kaya akan budaya dan penuh keberkahan.
(Team sumutpos id. b.siregar/a.s)
