-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dunia di Ambang Kiamat Energi! AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Bakal ‘Meledak’

Rabu, 15 April 2026 | April 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-14T22:43:58Z



SUMUTPOS.ID – Ketegangan global mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat secara resmi memberlakukan blokade militer di Selat Hormuz, Senin (13/4/2026). Langkah drastis yang diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump ini dilakukan menyusul gagalnya negosiasi damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu.

Blokade ini menargetkan seluruh kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia. Pengamat ekonomi mengkhawatirkan kebijakan ini akan memicu "tsunami" harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat, termasuk di Indonesia.

Ancaman Tenggelamkan Kapal

​Dalam pernyataan resminya, Presiden Trump mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa militer AS tidak akan ragu untuk mengambil tindakan mematikan terhadap pihak mana pun yang mencoba menghalangi operasi blokade ini.

"Kapal-kapal cepat Iran yang mendekati blokade kami akan dimusnahkan. Kami sudah sangat jelas mengenai 'garis merah' kami," tegas Trump sebagaimana dikutip dari AFP.

Langkah ini diambil AS sebagai upaya untuk mencegat kapal-kapal yang membayar "tol" kepada Iran serta menekan Teheran agar menghentikan pengayaan uranium mereka. Sejauh ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah memperluas cakupan blokade hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab.

Kapal Tanker China Berhasil Tembus

​Meski dijaga ketat oleh armada tempur AS, sebuah laporan mengejutkan muncul pada Selasa (14/4/2026). Kapal tanker Rich Starry milik perusahaan China dilaporkan berhasil "mengelabui" petugas dan melintasi Selat Hormuz.

Kapal yang membawa 250.000 barel metanol tersebut menjadi kapal pertama yang tercatat menembus blokade sejak aturan ini diberlakukan. Kejadian ini menambah dimensi ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing, mengingat kapal tersebut sebelumnya memang sudah berada dalam daftar sanksi AS.

Dampak Ngeri bagi Indonesia: Rupiah Tertekan, Subsidi Bengkak

​Krisis di jalur yang mengangkut 20% pasokan minyak dunia ini mulai terasa getarannya di tanah air. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan telah menembus angka US$126 per barel.

Dampaknya terhadap ekonomi nasional sangat nyata:

  • Kurs Rupiah: Nilai tukar Rupiah dilaporkan sempat menyentuh level Rp17.127 per Dolar AS, terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
  • Beban APBN: Defisit APBN 2026 berisiko membengkak di atas 3,3% PDB jika harga minyak terus bertahan di angka tinggi. Subsidi energi nasional diprediksi bisa melonjak hingga Rp210 triliun.

Pakar: "Masyarakat Harus Bersiap"

​Pakar energi menilai, jika blokade ini berlangsung lama, masyarakat di daerah—termasuk di Sumatera Utara—harus bersiap menghadapi kenaikan harga barang pokok akibat naiknya biaya logistik global.


​"Selat Hormuz adalah 'nadi' energi dunia. Jika nadi ini tersumbat, seluruh dunia akan merasa sakitnya. Indonesia harus segera mencari alternatif pasokan jika tidak ingin krisis energi dalam negeri pecah," ujar seorang analis ekonomi.

​Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih sangat fluktuatif dengan kehadiran militer besar-besaran dari kedua belah pihak. (Ald/Red)

×
Berita Terbaru Update