SUMUTPOS.ID – Situasi geopolitik dunia memasuki fase paling kritis dalam satu dekade terakhir. Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih setelah serangan militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 ini.
Kabar mengejutkan datang dari Teheran, di mana media pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan gugur akibat serangan udara tersebut. Peristiwa ini memicu gelombang balasan yang dikhawatirkan akan menyeret dunia ke dalam pusaran Perang Dunia III.
Iran Balas Serang, Selat Hormuz Terancam Ditutup
Sebagai respons atas kematian pemimpin mereka, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone bunuh diri ke berbagai target strategis. Tidak hanya menyasar wilayah Israel, serangan balasan ini juga menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab.
Ancaman paling nyata bagi ekonomi dunia saat ini adalah pernyataan Teheran yang akan menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak dunia. Jika penutupan benar-benar terjadi, pasokan energi global dipastikan terganggu secara drastis.
Dampak ke Indonesia: Harga BBM dan Ekonomi
Krisis di Timur Tengah ini mulai dirasakan dampaknya hingga ke tanah air. Anggota MPR RI dan sejumlah pakar ekonomi mulai memperingatkan pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah strategis.
"Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Sebagai negara importir minyak, Indonesia harus waspada terhadap lonjakan harga energi dan inflasi yang bisa menekan daya beli masyarakat," ujar pengamat ekonomi nasional dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).
Selain isu energi, sektor transportasi udara juga terdampak. Sejumlah penerbangan umrah dari Indonesia terpaksa ditunda atau dibatalkan menyusul penutupan wilayah udara di beberapa negara Timur Tengah demi alasan keamanan.
Rusia-Ukraina: Belum Ada Tanda Damai
Sementara perhatian dunia tersedot ke Timur Tengah, konflik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina memasuki tahun keempat tanpa tanda-tanda gencatan senjata. Presiden Vladimir Putin baru-baru ini menyatakan kesiapannya untuk menjadi mediator di Timur Tengah, namun di sisi lain, serangan drone Rusia ke infrastruktur energi Ukraina tetap berlangsung intensif.
PBB kini mendesak semua pihak untuk menahan diri. Namun, dengan keterlibatan aktor-aktor besar seperti AS, Israel, Iran, dan dukungan logistik dari negara-negara Eropa, dunia kini hanya berjarak selangkah dari konflik berskala global yang lebih luas.(Ald*Red)
