![]() |
BEIRUT ,SUMUTPOS.ID– Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mencekam. Militer Israel secara resmi mengalihkan fokus utamanya ke Lebanon dengan meluncurkan serangan udara besar-besaran di ibu kota Beirut serta mengeluarkan perintah evakuasi massal di wilayah-wilayah kekuasaan Hezbollah.
Langkah agresif ini memicu pertanyaan besar: Apakah ini akhir dari kekuatan kelompok militan yang didukung Iran tersebut?
Target Utama: Melucuti Hezbollah
Nimrod Novik, pakar dari Israel Policy Forum sekaligus mantan penasihat senior mendiang PM Israel Shimon Peres, menegaskan bahwa operasi ini memiliki misi tunggal yang jelas.
"Tujuannya adalah untuk melucuti senjata Hezbollah sepenuhnya," tegas Novik.
Ketegangan memuncak setelah Hezbollah—yang kini dilaporkan berada di bawah pengawasan langsung Garda Revolusi Iran (IRGC)—meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel pada Senin lalu. Serangan tersebut diduga merupakan respons atas tekanan Teheran pasca-tewasnya Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara Israel sebelumnya.
Gempuran Tanpa Ampun dan Krisis Kemanusiaan
Respons Israel tergolong luar biasa masif. Sejak Senin, militer Israel tidak hanya melancarkan serangan udara, tetapi juga memulai kembali invasi darat ke wilayah utara. Langkah ini sekaligus mengakhiri gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati pada tahun 2024.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dampak mengerikan dari eskalasi ini:
- Korban Jiwa: Lebih dari 200 orang tewas sejak Senin.
- Evakuasi: Ratusan ribu warga di Beirut Selatan dan Lebanon Selatan dipaksa mengungsi.
- Intensitas: Serangan udara mencapai puncaknya pada Jumat dengan rentetan bom di berbagai titik strategis.
Firas Maksad, Direktur Pelaksana Timur Tengah di Eurasia Group, memprediksi bahwa serangan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. "Israel kemungkinan akan terus menggempur target Hezbollah di seluruh negeri, bahkan mungkin berlanjut setelah konflik dengan Iran mereda," ujarnya.
Kilas Balik: Dari Milisi Sipil Menjadi 'Tangan Kanan' Iran
Hezbollah muncul pada awal 1980-an di tengah perang saudara Lebanon untuk melawan pendudukan Israel. Dengan dukungan finansial besar dari Iran, kelompok ini bertransformasi menjadi kekuatan politik dan militer yang dominan di Lebanon.
Di bawah kepemimpinan Hassan Nasrallah sejak 1992, Hezbollah menjadi aset paling berharga bagi Iran. Steven A. Cook dari Council on Foreign Relations menyebut Hezbollah sebagai "proksi utama" yang berfungsi sebagai kekuatan serangan kedua Iran terhadap Israel.
Runtuhnya Kekuatan Hezbollah?
Kehancuran mulai terasa sejak Oktober 2023, ketika Hezbollah memutuskan ikut campur dalam perang Hamas-Israel. Setahun kemudian, Israel melakukan operasi intelijen tingkat tinggi, mulai dari ledakan perangkat pager hingga pembunuhan Hassan Nasrallah pada 27 September 2024.
Meskipun sempat ada gencatan senjata, Israel terus menekan pemerintah Lebanon untuk membubarkan sayap militer Hezbollah. Ketakutan bahwa Hezbollah sedang membangun kembali kekuatannya membuat Israel memilih jalur militer total untuk memastikan kelompok ini tidak lagi menjadi ancaman di perbatasan utara mereka. (Ald*Red)
Sumber: Associated Press (AP)
