-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dibalik Serangan AS-Israel, Warga Iran Diam-diam Beri Dukungan? Narasi Perlawanan Muncul dari Dalam Teheran

Minggu, 01 Maret 2026 | Maret 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-01T08:37:42Z

 

Masyarakat Iran mengibarkan bendera Amerika Serikat atas serangan Amerika-Israel ke Negara mereka sendiri Iran

TEHERAN -Sumutpos.id; – Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke jantung pertahanan Iran sejak Sabtu (28/2/2026) ternyata memicu reaksi tak terduga dari dalam negeri Iran sendiri. Di tengah kepulan asap ledakan, mulai muncul narasi mengejutkan: sebagian masyarakat Iran justru melihat serangan ini sebagai peluang untuk mengakhiri rezim ulama yang telah berkuasa selama puluhan tahun.


​Berdasarkan laporan lapangan dan pantauan media sosial yang sempat bocor sebelum pemutusan internet total, berikut adalah fakta-fakta terkait dinamika "dukungan internal" tersebut:


1. Luapan Frustrasi Akibat Krisis Ekonomi

​Sebelum rudal-rudal Israel menghantam, Iran sudah lebih dulu "membara" oleh aksi protes besar-besaran sejak Desember 2025. Inflasi yang gila-gilaan dan ekonomi yang morat-marit membuat warga muak. Bagi sebagian demonstran, serangan militer asing dianggap sebagai "tekanan luar" yang diperlukan untuk meruntuhkan kekuasaan yang dianggap korup.


2. Simbol Perlawanan di Media Sosial

​Di platform digital yang masih bisa diakses melalui VPN, tagar-tagar bernada sarkasme bermunculan. Meski pemerintah Iran mengklaim persatuan nasional, banyak aktivis muda di Teheran dan Mashhad yang justru membagikan lokasi fasilitas militer IRGC (Garda Revolusi) di media sosial, sebuah tindakan yang dianggap sebagai bantuan navigasi bagi jet tempur lawan.


3. Harapan Akan "Era Baru" Tanpa Khamenei

​Kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut disambut dengan "keheningan yang merayakan" di beberapa sudut kota. Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, bahkan secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih kendali pemerintahan saat rezim dalam kondisi paling lemah.


 

"Kami tidak menginginkan perang, tapi kami lebih tidak menginginkan rezim ini. Jika ini adalah cara untuk bebas, biarlah terjadi," tulis seorang netizen Iran di platform X sebelum akses internet ditutup paksa oleh otoritas setempat.


4. Reaksi Keras Pemerintah

​Tentu saja, pemerintah Iran bergerak cepat memadamkan api pembangkangan ini. Pasukan Basij dan IRGC dilaporkan telah melakukan penangkapan massal terhadap warga yang dianggap "bermuka dua" atau merayakan serangan musuh. Mereka dituduh sebagai antek Zionis dan agen CIA yang mencoba mengadu domba bangsa di tengah duka nasional.


Dampak Global bagi Indonesia:

Eskalasi di Iran ini tidak hanya soal politik dalam negeri mereka. Harga minyak mentah dunia yang mulai meroket dan ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional Indonesia.


​Simak terus perkembangan berita terbaru mengenai konflik Timur Tengah ini hanya di sumutpos.id. (Ald*Red)

×
Berita Terbaru Update