-->

Notification

×

Iklan

 


Tag Terpopuler

Dari Masa Lalu yang Kelam Menuju Rencana Allah yang Mulia:

Jumat, 27 Februari 2026 | Februari 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-26T18:15:40Z




Dari Masa Lalu yang Kelam Menuju Rencana Allah yang Mulia: 

Dari Kisah Rahab yang Menginspirasi Masyarakat, Pemimpin Gereja, dan Bangsa

 

Oleh: Pdt.Adv. Horas Sianturi SH, MH, MTh.

Pimpinan sumutpos.id

Ketua Sinode Gereja Cahaya Kemuliaan

Pematangsiantar-Sumatera Utara

 

Jakarta, sumutpos.id  27/02/2026 -  Masa Lalu Tidak selalu  Menentukan masa  Akhir & Pesan Tuhan untuk Semua Lapisan Masyarakat.

Tak setiap manusia diberikan awal hidup yang mulus dan terarah. 

Ada yang tumbuh di tengah kemiskinan, ada yang tersesat dalam pilihan menyimpang, dan banyak pula yang terpaksa membawa beban stigma masa lalu. 


Namun firman Allah mengingatkan: masa lalu bukanlah hakim yang menetapkan akhir perjalanan. 

Baik sebagai individu, anggota masyarakat, pemimpin gereja, maupun pelaku pembangunan bangsa—setiap orang dan kelompok memiliki kesempatan untuk meraih harapan baru dalam rencana Tuhan.


I. Yerikho: Kota Kuat yang Bersembunyi dalam  Kerapuhan— Refleksi untuk Bangsa dan Masyarakat

 

Pada masa perjanjian lama, Yerikho dikenal sebagai benteng pertahanan yang kokoh tebal temboknya sekitar 6 Meter —dindingnya menjulang tinggi, struktur bentengnya sulit ditembus, dan bagi warganya, kota itu adalah simbol keamanan abadi. 


Namun di balik kemegahan fisik tersebut, Tuhan telah menetapkan kehancuran total karena kesesatan dan pengabaian nilai-nilai kebenaran (Yosua 6:1-5).

 

Pesan Tuhan Bagi Masyarakat dan Bangsa Kita tercinta, dimana banyak bangsa dan masyarakat modern juga hidup dalam "keamanan semu". 

Pertumbuhan ekonomi yang pesat, kemajuan teknologi, dan kemewahan material dianggap sebagai fondasi yang kokoh. 


Padahal yang seharusnya dibangun dengan baik dan benar adalah  nilai-nilai moral, keadilan, dan spiritualitas, hal ini selama ini  diabaikan dan akan mengakibatkan struktur masyarakat menjadi rapuh dari dalam.


Hal ini sesuai yang tertulis dalam Wahyu 3:17, "Engkau berkata, 'Aku kaya dan makmur...' padahal engkau tidak menyadari bahwa engkau sebenarnya orang yang melarat, dan malang, dan buta, dan telanjang."

 

Iklan foto sumutpos.id


Di Indonesia, kita sering bangga dengan kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, juga program-program unggulan dari para pemimpin 

namun Bangsa kita masih dihadapkan pada kenyataan yang seolah berepisode, berkelanjutan dan terkesan semakin merajalela yaitu  korupsi, kesenjangan sosial, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan dan juga banyaknya  perpecahan akibat perbedaan pandangan.


Ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan bangsa tidak hanya diukur dari kemakmuran material, tetapi juga dari kekuatan moral dan spiritual masyarakatnya.

 

II. Rahab: Iman yang Lahir dari sebuah Keputusan yang benar

 

Rahab adalah seorang perempuan dari Yerikho yang dikenal dengan profesi pelacur—sebuah pekerjaan yang pada masa itu dan masa sekarang dipandang rendah dan penuh stigma.


Namun berbeda dengan kebanyakan warga yang terpaku pada keamanan kota mereka, Rahab mendengar kabar tentang kuasa Allah Israel yang telah menyelamatkan bangsa Israel dan mengambil keputusan berani untuk mempercayai kebenaran tersebut.

 

Pengakuannya yang tegas menjadi bukti kekuatan imannya: "TUHAN, Allahmu, Dialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah" (Yosua 2:11).

 

Pesan untuk Pemimpin Gereja: Iman yang sejati tidak ditentukan oleh gelar akademis, panjangnya masa pelayanan, atau struktur organisasi gereja yang sempurna. 


Ia lahir dari keberanian untuk mengakui kebenaran firman Allah dan membuat keputusan untuk hidup sesuai dengannya—bahkan ketika itu bertentangan dengan norma atau kepentingan kelompok.

 

Tidak ada individu atau kelompok yang terlalu "rusak" atau "rendah" untuk diterima dan digunakan oleh Allah. 

Masa lalu yang kelam bukanlah alasan untuk tetap terjebak dalam kesalahan, melainkan pijakan untuk bangkit dengan kekuatan baru dalam iman.

 

Banyak pemimpin gereja di Indonesia yang berasal dari latar belakang sederhana bahkan pernah terlibat dalam kesalahan masa muda, namun setelah memilih untuk hidup dalam iman, mereka menjadi pelayan yang menginspirasi dan membawa perubahan positif bagi jemaat serta masyarakat sekitar. Di tingkat masyarakat, kita melihat banyak contoh individu yang berhasil mengubah diri dari kehidupan yang menyimpang menjadi agen perubahan di lingkungannya.

 

III. Iman yang Diwujudkan dalam Tindakan Nyata—

 

Ketika dua pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab dengan penuh keberanian menyembunyikannya, meskipun ia tahu bahwa tindakan itu bisa membuatnya dihukum mati. Ia memilih berpihak kepada rencana Allah, bukan kepada sistem yang selama ini memberikan nafkah namun tidak membawa kebenaran.

 

Alkitab menegaskan, "Iman tanpa perbuatan adalah mati" (Yakobus 2:26).

 

Pesan untuk Pemimpin Bangsa: Kepemimpinan yang baik tidak hanya sebatas janji dan pidato yang menginspirasi, demi rakyat, untuk rakyat. Kita kejar para koruptor sampai ke-Antartika dst....tetapi harus diwujudkan  dalam tindakan  yang nyata dalam  memperjuangkan keadilan, kesejahteraan rakyat, dan kebenaran. 


Pemimpin harus berani mengambil sikap tegas terhadap segala bentuk kesalahan dan ketidakadilan, bahkan jika itu berarti mengorbankan kepentingan pribadi atau kelompok.

 

dan pesan bagi kita,  Pelayanan gereja tidak hanya sebatas ibadah mingguan dan kegiatan keagamaan. 

Gereja harus menjadi agen perubahan yang aktif dalam menangani masalah sosial—seperti kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, serta diskriminasi.

 

Contoh Relevan: Di berbagai daerah di Indonesia, kita melihat pemimpin daerah yang berani memberantas korupsi dan fokus pada pembangunan yang merata, serta pemimpin gereja yang bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi masyarakat untuk membantu korban bencana alam dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin.

 

IV. Keputusan Bijak yang Menyelamatkan Generasi—Pesan untuk Semua Lapisan

 

Salah satu sisi paling menginspirasi dari kisah Rahab adalah fokusnya pada orang tersayang. Ketika membuat perjanjian dengan para pengintai, ia tidak hanya meminta keselamatan bagi diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh keluarganya. Ia mengumpulkan mereka di rumah yang ditandai tali kirmizi, dan ketika Yerikho runtuh, hanya rumah itu yang tetap berdiri (Yosua 6:25).

 

Mari Bergabung menjadi Kru Media & member  di sumutpos.id 


Pesan untuk Masyarakat, Pemimpin Gereja, dan Bangsa: Satu keputusan yang benar tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri, tetapi juga dapat menjadi titik balik bagi keluarga, komunitas, dan bahkan generasi mendatang.

 

- Bagi Masyarakat: Keputusan untuk hidup dengan nilai-nilai baik akan membangun keluarga yang kuat dan masyarakat yang harmonis.

- Bagi Pemimpin Gereja: Keputusan untuk membina jemaat dengan benar akan menghasilkan generasi pemimpin yang saleh dan berkomitmen untuk melayani.

- Bagi Pemimpin Bangsa: Keputusan untuk membuat kebijakan yang adil dan berkelanjutan akan membawa kemakmuran dan kedamaian bagi bangsa di masa depan.

 

Contoh Relevan: Banyak keluarga besar di Indonesia yang tetap utuh dan produktif karena adanya seorang anggota yang mengambil keputusan untuk hidup dengan nilai-nilai agama dan membawa seluruh keluarga untuk mengikuti. Di tingkat nasional, kebijakan pembangunan sumber daya manusia yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk menyelamatkan generasi muda dari kemiskinan dan ketidakberdayaan.

 

V. Dipulihkan dan Diberi Tempat Terhormat—Pesan untuk Bangsa dan Gereja

 

Kisah Rahab tidak berhenti pada keselamatan fisik saja. Ia tinggal di tengah bangsa Israel dan bahkan masuk dalam silsilah kelahiran Yesus Kristus (Matius 1:5). Seorang perempuan dengan masa lalu yang dianggap kelam tidak hanya diselamatkan, tetapi juga dipulihkan martabatnya dan diberi peran penting dalam rencana besar Allah.

 

Ini sesuai dengan firman dalam 2 Korintus 5:17, "Jadi barangsiapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama telah berlalu, yang baru telah datang."

 

Pesan untuk Gereja dan Bangsa: Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keragaman dan potensi. Tidak ada daerah atau kelompok yang terlalu kecil atau "terketinggalan" untuk tidak berkontribusi pada kemajuan bangsa. Gereja memiliki peran penting untuk memulihkan martabat setiap individu dan mengembangkan potensi mereka untuk menjadi bagian yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

 

Contoh Relevan: Banyak daerah di Indonesia yang dulunya dianggap tertinggal kini berkembang pesat berkat dukungan dari pemerintah dan peran aktif gereja serta masyarakat lokal. Banyak individu yang dulunya merasa tidak berharga kini menjadi pemimpin yang dihormati dan berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa.

 

Refleksi Akhir

Kisah Rahab adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dimulai dari satu keputusan iman yang tegas. Di tengah dunia yang tampak kuat namun rapuh, Allah masih bekerja melalui masyarakat, pemimpin gereja, dan pemimpin bangsa yang berani mempercayai dan mengambil tindakan yang benar.

 

Pertanyaan yang harus kita renungkan bersama adalah:

Apakah kita—sebagai individu, anggota masyarakat, pemimpin gereja, maupun pelaku pembangunan bangsa—bersedia membuat keputusan yang benar berdasarkan kebenaran dan iman, tidak hanya untuk kebaikan diri kita sendiri, tetapi juga untuk melindungi, membimbing, dan membawa harapan bagi keluarga, komunitas, dan generasi mendatang bangsa Indonesia.

(RED-SP.ID-Tim)

 

 

 


×
Berita Terbaru Update