-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PRIA SEJATI

Selasa, 06 Oktober 2026 | Oktober 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-06T08:29:00Z


PS.Horss Sianturi SH,MHMTh.

SERI : SUAMI TERBAIK
‎
‎Mengasihi, Memimpin, dan Melindungi Keluarga
‎
‎Oleh: PS. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
‎
‎Jakarta,sumutpos.id,06/10/2026
-   “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
‎— Efesus 5:25
‎
‎Menjadi seorang suami bukan sekadar status dalam sebuah keluarga. Menjadi suami adalah sebuah panggilan, tanggung jawab, dan pelayanan yang diberikan Tuhan.
‎
‎Dunia sering mengukur keberhasilan seorang laki-laki dari jabatan, kekayaan, pendidikan, rumah yang dimiliki, atau keberhasilan dalam pekerjaan. Namun, di hadapan Tuhan, ukuran seorang suami tidak pertama-tama dilihat dari seberapa banyak yang ia miliki, melainkan seberapa besar ia mampu mengasihi dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
‎
‎Suami terbaik bukanlah suami yang sempurna. Suami terbaik adalah laki-laki yang mau terus belajar menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.
‎
‎Suami Terbaik Mengasihi, Bukan Menguasai
‎
‎Efesus 5:25 memberikan standar yang sangat tinggi bagi seorang suami:
‎
‎“Kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.”
‎
‎Kristus mengasihi jemaat dengan kasih yang rela berkorban. Karena itu, kepemimpinan seorang suami tidak boleh dimaknai sebagai kesempatan untuk menguasai, menekan, atau memaksakan kehendak.
‎
‎Kepemimpinan dalam keluarga adalah tanggung jawab untuk melayani.
‎
‎Suami yang mengasihi akan belajar mendengarkan istrinya. Ia tidak merendahkan ketika terjadi perbedaan pendapat. Ia tidak menggunakan kekuatan, jabatan, ekonomi, atau emosinya untuk menyakiti keluarganya.
‎
‎Kadang-kadang seorang suami merasa bahwa dirinya harus selalu menang dalam sebuah perdebatan. Padahal, dalam rumah tangga, kemenangan seorang suami atas istrinya sebenarnya dapat menjadi kekalahan bagi seluruh keluarga.
‎
‎Suami terbaik bukanlah suami yang selalu menang dalam perdebatan, tetapi suami yang mampu menjaga hati istrinya.
‎
‎Suami Terbaik Menjadi Imam bagi Keluarga
‎
‎Keluarga Kristen membutuhkan lebih dari sekadar seorang pencari nafkah. Keluarga membutuhkan seorang laki-laki yang mempunyai arah rohani.
‎
‎Yosua berkata:
‎
‎“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
‎— Yosua 24:15
‎
‎Pernyataan Yosua menunjukkan bahwa iman seorang kepala keluarga tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia ingin seluruh keluarganya berjalan bersama Tuhan.
‎
‎Seorang suami dipanggil untuk menjadi teladan dalam kehidupan rohani.
‎
‎Ia tidak harus menjadi seorang teolog. Ia tidak harus selalu memiliki jawaban atas semua persoalan. Tetapi ia harus menunjukkan bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan keluarganya.
‎
‎Suami dapat memulai dari hal sederhana:
‎
‎Berdoa bersama keluarga.
‎Membaca firman Tuhan.
‎Mengajak anak-anak beribadah.
‎Mengajarkan kejujuran.
‎Menunjukkan pengampunan.
‎Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
‎
‎Jangan sampai seorang ayah mengajarkan anaknya untuk berdoa, tetapi anak itu tidak pernah melihat ayahnya berdoa.
‎
‎Keteladanan lebih kuat daripada nasihat.
‎
‎Suami Terbaik Melindungi, Bukan Melukai
‎
‎Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang istri dan anak-anak.
‎
‎Ketika dunia memberikan tekanan, keluarga seharusnya menjadi tempat untuk menemukan ketenangan. Ketika seorang anak mengalami kegagalan, ia seharusnya menemukan seorang ayah yang memberikan penguatan. Ketika seorang istri mengalami pergumulan, ia seharusnya menemukan seorang suami yang bersedia mendengar dan mendampingi.
‎
‎Karena itu, kekuatan seorang suami bukan diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari seberapa kuat ia mampu menjaga keluarganya.
‎
‎1 Petrus 3:7 mengingatkan para suami untuk hidup bijaksana bersama istrinya dan memberikan penghormatan kepadanya.
‎
‎Melindungi bukan berarti mengekang.
‎
‎Melindungi berarti menjaga kehormatan, menjaga kesetiaan, menjaga kepercayaan, menjaga kebutuhan keluarga, dan menjaga rumah tangga dari hal-hal yang dapat menghancurkannya.
‎
‎Suami Terbaik Berani Mengakui Kesalahan
‎
‎Ada satu hal yang sering sulit dilakukan seorang laki-laki: mengatakan, “Saya salah. Maafkan saya.”
‎
‎Padahal, meminta maaf bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah tanda kedewasaan.
‎
‎Tidak ada suami yang sempurna.
‎
‎Ada kalanya suami salah mengambil keputusan. Ada kalanya perkataannya melukai istrinya. Ada kalanya ia terlalu sibuk sehingga tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anak. Ada kalanya emosinya tidak terkendali.
‎
‎Yang membedakan suami yang bertumbuh dengan suami yang tidak bertumbuh adalah kesediaannya untuk mengakui kesalahan dan berubah.
‎
‎Amsal 24:16 berkata:
‎
‎“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.”
‎
‎Keluarga tidak membutuhkan seorang ayah yang pura-pura tidak pernah salah. Keluarga membutuhkan seorang ayah yang ketika jatuh, mau bangun; ketika salah, mau bertobat; dan ketika melukai, mau memulihkan.
‎
‎Suami Terbaik Tidak Hanya Mencari Nafkah, Tetapi Memberikan Kehadiran
‎
‎Ada kebutuhan dalam keluarga yang tidak dapat dibeli dengan uang.
‎
‎Anak membutuhkan waktu ayahnya.
‎Istri membutuhkan perhatian suaminya.
‎Keluarga membutuhkan percakapan.
‎Rumah membutuhkan doa.
‎
‎Seorang suami mungkin mampu menyediakan rumah yang besar, kendaraan yang bagus, pendidikan yang tinggi, dan berbagai kebutuhan materi. Tetapi jika dirinya tidak pernah hadir secara emosional dan rohani, keluarga dapat tetap merasa kehilangan.
‎
‎Karena itu, jangan hanya bertanya:
‎
‎“Apa yang sudah saya berikan kepada keluarga?”
‎
‎Tetapi tanyakan juga:
‎
‎“Apakah saya benar-benar hadir bagi keluarga saya?”
‎
‎Sebab terkadang yang paling dibutuhkan seorang istri bukan hadiah mahal, melainkan seorang suami yang duduk di sampingnya dan berkata:
‎
‎“Aku ada di sini. Kita hadapi bersama.”
‎
‎Suami Terbaik Dimulai dari Hati yang Takluk kepada Kristus
‎
‎Pada akhirnya, menjadi suami terbaik bukan terutama tentang kemampuan seorang laki-laki.
‎
‎Ini tentang siapa yang menjadi Tuhan dalam hidupnya.
‎
‎Seorang laki-laki yang hidup jauh dari Tuhan akan mudah menjadikan dirinya sebagai pusat keluarga. Tetapi seorang suami yang menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya akan belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengorbanan.
‎
‎Sebelum menjadi pemimpin bagi keluarga, jadilah laki-laki yang mau dipimpin Tuhan.
‎
‎Sebelum menuntut istri menghormati, belajarlah mengasihi.
‎
‎Sebelum menuntut anak-anak menjadi teladan, jadilah teladan bagi mereka.
‎
‎Sebelum meminta keluarga berubah, beranilah memulai perubahan dari diri sendiri.
‎
‎SUAMI TERBAIK BUKANLAH SUAMI YANG SEMPURNA
‎
‎Suami terbaik adalah suami yang:
‎
‎Mengasihi tanpa menyakiti.
‎Memimpin tanpa menindas.
‎Melindungi tanpa mengekang.
‎Menegur tanpa merendahkan.
‎Memberi tanpa menuntut balasan.
‎Meminta maaf ketika salah.
‎Setia ketika menghadapi kesulitan.
‎Dan membawa keluarganya semakin dekat kepada Tuhan.
‎
‎Kiranya setiap suami dapat berkata dalam hatinya:
‎
‎“Tuhan, jadikan aku suami yang bukan hanya mampu membangun rumah, tetapi mampu membangun keluarga. Bukan hanya mampu mencari nafkah, tetapi mampu memberikan kasih. Bukan hanya mampu memimpin, tetapi mampu menjadi teladan. Dan bukan hanya menjadi kepala keluarga, tetapi menjadi hamba-Mu yang setia di tengah keluargaku.”
‎
‎Karena pada akhirnya, warisan terbesar seorang suami bukanlah harta yang ia tinggalkan, melainkan iman, kasih, keteladanan, dan keluarga yang tetap berjalan bersama Tuhan.
‎
‎Renungan....
‎
‎Jika hari ini Tuhan bertanya kepada seorang suami:
‎
‎“Sudahkah engkau menjadi suami seperti yang Aku kehendaki?”
‎
‎Kiranya jawabannya bukan tentang berapa banyak yang telah kita miliki, tetapi tentang berapa banyak kasih yang telah kita berikan.
‎
‎Salam Hormat
‎PS.Horss Sianturi SH, MH, MTh.
‎
‎Red/SP.ID/ HS


×
Berita Terbaru Update