![]() |
| PS. Horas Sianturi, SH.MH.MTh. |
Artikel Rohani Kristen
BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI
Tiga Langkah Menuju Pemulihan Hati
Oleh: PS. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
Jakarta,sumutpos.id/ 21/09/2026. - Ketika Kita Mampu Mengampuni Orang Lain, Tetapi Belum Mampu Mengampuni Diri Sendiri
Ada orang yang setiap hari terlihat kuat, tetapi diam-diam sedang lelah.
Ada yang mampu tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi ketika sendirian harus berhadapan dengan air mata dan pergumulan di dalam hati.
Ada yang mampu mendoakan orang lain agar dipulihkan, tetapi dirinya sendiri masih menyimpan luka yang belum selesai.
Ada yang berkata kepada orang lain, “Tuhan mengampunimu,” tetapi ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, ia masih berkata, “Saya tidak layak.”
Inilah salah satu pergumulan manusia yang sering tidak terlihat: pergumulan dengan diri sendiri.
Tidak semua luka terlihat.
Ada luka yang tidak berdarah, tetapi terasa setiap kali kita mengingat masa lalu.
Ada kegagalan yang sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi masih terus kita hukum di dalam pikiran.
Ada perkataan seseorang yang hanya diucapkan beberapa menit, tetapi kita bawa selama bertahun-tahun.
Ada kesalahan yang sudah kita akui di hadapan Tuhan, tetapi belum kita lepaskan dari hati kita sendiri.
Akibatnya, tubuh kita mungkin sudah berjalan ke depan, tetapi hati kita masih tinggal di masa lalu.
Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya dapat membawa kita kepada sebuah perjalanan rohani yang sangat dalam.
Sebab bagaimana mungkin kita membangun orang lain dengan sehat jika di dalam diri kita sendiri masih ada luka yang belum dipulihkan?
Bagaimana mungkin kita membawa damai kepada orang lain jika hati kita sendiri masih penuh peperangan?
Bagaimana mungkin kita mengajarkan kasih karunia kepada orang lain jika kita sendiri belum mampu menerima kasih karunia Tuhan atas hidup kita?
Karena itu, berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara ego atau mencintai diri secara berlebihan. Ini adalah bagian dari proses menerima kasih karunia Tuhan dan mengizinkan Dia memulihkan hati kita.
Firman Tuhan berkata:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Markus 12:31
Ada sesuatu yang menarik dalam perkataan Yesus tersebut.
Kita diperintahkan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Artinya, bagaimana kita memandang diri sendiri juga berpengaruh terhadap bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Orang yang terus-menerus membenci dirinya akan kesulitan memberikan kasih yang sehat.
Orang yang tidak berdamai dengan dirinya dapat membawa luka ke dalam keluarga, persahabatan bahkan pelayanan.
Sebaliknya, orang yang mengalami pemulihan di dalam Tuhan akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menjadi saluran pemulihan bagi orang lain.
Karena itu, berdamai dengan diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa kita sempurna.
Berdamai dengan diri berarti berani berkata:
«“Saya pernah salah, tetapi saya tidak harus selamanya hidup sebagai orang yang salah.”
“Saya pernah gagal, tetapi kegagalan bukan identitas saya.”
“Saya pernah terluka, tetapi luka tidak harus menentukan masa depan saya.”
“Saya tidak sempurna, tetapi saya dikasihi Tuhan dan masih sedang dibentuk-Nya.”»
Ada tiga langkah penting yang perlu kita jalani.
1. MENERIMA DIRI SEBAGAI PRIBADI YANG DIKASIHI TUHAN
“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.”
Mazmur 139:14
Sering kali kita mengukur nilai diri berdasarkan keberhasilan.
Ketika pelayanan berhasil, kita merasa berharga. Ketika mendapat penghargaan, kita merasa diterima. Tetapi ketika mengalami kegagalan, kritik atau penolakan, kita mulai mempertanyakan diri sendiri.
Padahal nilai diri kita tidak ditentukan oleh keberhasilan pelayanan, jabatan, pujian manusia, ataupun penilaian orang lain.
Kita berharga karena Tuhan mengasihi kita.
Kita perlu belajar mengatakan:
“Saya tidak sempurna, tetapi saya dikasihi Tuhan.”
Kita mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kita memiliki karakter yang masih harus dibentuk. Kita juga mempunyai kelemahan yang mungkin belum selesai.
Namun kelemahan tidak membuat kita kehilangan nilai di hadapan Tuhan.
Paulus berkata:
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
2 Korintus 12:9
Menerima diri bukan berarti berhenti memperbaiki diri.
Menerima diri berarti kita tidak lagi membenci diri sendiri karena belum sempurna.
Kita menerima diri sambil terus memberi kesempatan kepada Tuhan untuk membentuk kita.
2. MELEPASKAN MASA LALU: KEGAGALAN BUKAN IDENTITAS KITA
Setiap orang mempunyai masa lalu.
Ada kesalahan yang pernah dilakukan.
Ada keputusan yang disesali.
Ada hubungan yang rusak.
Ada perkataan yang menyakitkan.
Ada kegagalan dalam keluarga, pekerjaan maupun pelayanan.
Tetapi kita harus memahami satu hal:
Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup, tetapi bukan penentu seluruh masa depan kita.
Rasul Paulus berkata:
“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”
Filipi 3:13
Paulus tidak menyangkal masa lalunya. Ia tahu siapa dirinya dan apa yang pernah dilakukannya.
Tetapi ia tidak membiarkan masa lalu menjadi penjara.
Demikian pula dengan kita.
Kita perlu belajar mengakui, mengampuni dan menyerahkan.
Akui apa yang salah.
Ampuni orang yang pernah melukai.
Ampuni diri sendiri.
Kemudian serahkan semuanya kepada Tuhan.
Sebab ada orang yang sudah bertahun-tahun menerima pengampunan Tuhan, tetapi masih terus menghukum dirinya sendiri.
Padahal:
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita.”
1 Yohanes 1:9
Kegagalan adalah peristiwa, bukan identitas.
Kita boleh berkata:
“Saya pernah gagal.”
Tetapi jangan berkata:
“Saya adalah orang gagal.”
Petrus pernah menyangkal Yesus. Namun kegagalan Petrus bukan akhir dari panggilannya. Yesus memulihkan Petrus dan kembali mempercayakan pelayanan kepadanya.
Karena itu, jangan biarkan satu kegagalan menghapus seluruh karya Tuhan dalam hidup kita.
Apa yang pernah menghancurkan kita dapat Tuhan ubah menjadi bagian dari kesaksian pemulihan kita.
3. MENJALANI PANGGILAN TANPA PERBANDINGAN
Salah satu hal yang sering merampas damai sejahtera adalah membandingkan diri dengan orang lain.
Kita melihat pelayanan orang lain dan mulai bertanya:
“Kenapa dia lebih dipercaya?”
“Kenapa pelayanannya lebih besar?”
“Kenapa dia lebih dihargai?”
“Kenapa hidup saya tidak seperti dia?”
Perbandingan membuat kita lupa bahwa Tuhan memberikan panggilan yang berbeda kepada setiap orang.
Dalam Yohanes 21:22, ketika Petrus bertanya mengenai murid yang lain, Yesus menjawab:
“Apakah urusanmu? Ikutlah Aku.”
Ini adalah panggilan untuk kembali fokus kepada Tuhan.
Kita tidak dipanggil menjadi orang lain. Kita dipanggil menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki.
Ada pelayanan yang terlihat oleh banyak orang.
Ada pelayanan yang dilakukan dalam keheningan.
Ada yang berkhotbah.
Ada yang mengajar.
Ada yang mendoakan.
Ada yang melayani anak-anak.
Ada yang membersihkan gereja.
Ada yang menguatkan satu orang yang sedang mengalami kehancuran.
Tidak semua pelayanan terlihat, tetapi setiap kesetiaan berharga di hadapan Tuhan.
Karena itu, jangan membandingkan panggilan kita dengan panggilan orang lain.
Ukuran pelayanan bukan seberapa besar kita terlihat, tetapi seberapa setia kita menjalankan apa yang Tuhan percayakan.
Ketika kita sudah berdamai dengan diri sendiri, kita tidak lagi melayani untuk mencari pengakuan.
Kita tidak perlu membuktikan bahwa kita lebih hebat.
Kita tidak perlu mengejar pujian.
Kita dapat berkata:
“Saya melayani bukan supaya saya berharga. Saya melayani karena saya sudah dikasihi Tuhan.”
BERDAMAI DENGAN DIRI, DIPULIHKAN UNTUK MENJADI BERKAT
Seorang pelayan yang belum berdamai dengan dirinya dapat membawa luka ke dalam pelayanan.
Hati yang terluka dapat melukai.
Hati yang penuh kepahitan dapat membawa kepahitan.
Tetapi hati yang mengalami pemulihan dapat menjadi tempat orang lain menemukan pengharapan.
Karena itu Tuhan tidak hanya ingin menggunakan tangan kita untuk bekerja, tetapi juga ingin menyembuhkan hati kita.
Pelayanan bukan sekadar tentang apa yang kita lakukan untuk Tuhan.
Pelayanan juga berbicara tentang siapa kita ketika melakukan pelayanan itu.
Tiga pokok yang perlu kita bawa:
1. TERIMA DIRIMU
Aku adalah pribadi yang dikasihi dan sedang dibentuk Tuhan.
2. LEPASKAN MASA LALUMU
Aku pernah gagal, tetapi kegagalan bukan identitasku.
3. JALANI PANGGILANMU
Aku tidak perlu menjadi seperti orang lain. Aku hanya perlu setia mengikuti Tuhan.
PENUTUP
Mungkin hari ini ada seseorang yang masih berperang dengan dirinya sendiri.
Masih menyalahkan diri.
Masih mengingat kegagalan.
Masih terluka oleh perkataan orang.
Masih merasa tidak layak.
Hari ini, mari berhenti sejenak.
Tarik napas.
Datang kepada Tuhan.
Dan katakan:
“Tuhan, aku menerima diriku karena Engkau terlebih dahulu menerimaku.”
“Aku menyerahkan masa laluku kepada-Mu.”
“Aku mengampuni mereka yang telah melukaiku.”
“Aku juga belajar mengampuni diriku sendiri.”
“Aku tidak akan lagi hidup dalam perbandingan.”
“Aku mau menjalani panggilanku dengan setia.”
“Pulihkan hatiku, supaya melalui hidupku orang lain juga mengalami pemulihan.”
Sebab berdamai dengan diri sendiri bukan berarti
berhenti bertumbuh; berdamai dengan diri berarti berhenti berperang melawan diri sendiri dan mulai berjalan bersama Tuhan dalam proses pemulihan.
Hati yang berdamai akan menghadirkan damai.
Hati yang dipulihkan akan mampu memulihkan.
Dan hidup yang telah disentuh kasih karunia akan menjadi berkat bagi banyak orang.
PS. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
