-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berdamai dengan diri sendiri

Senin, 21 September 2026 | September 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-21T13:18:34Z


PS. Horas Sianturi, SH.MH.MTh. 



Artikel Rohani Kristen 

‎BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI
‎
‎Tiga Langkah Menuju Pemulihan Hati
‎
‎Oleh: PS. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
‎
‎Jakarta,sumutpos.id/ 21/09/2026. - Ketika Kita Mampu Mengampuni Orang Lain, Tetapi Belum Mampu Mengampuni Diri Sendiri
‎
‎Ada orang yang setiap hari terlihat kuat, tetapi diam-diam sedang lelah.
‎
‎Ada yang mampu tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi ketika sendirian harus berhadapan dengan air mata dan pergumulan di dalam hati.
‎
‎Ada yang mampu mendoakan orang lain agar dipulihkan, tetapi dirinya sendiri masih menyimpan luka yang belum selesai.
‎
‎Ada yang berkata kepada orang lain, “Tuhan mengampunimu,” tetapi ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, ia masih berkata, “Saya tidak layak.”
‎
‎Inilah salah satu pergumulan manusia yang sering tidak terlihat: pergumulan dengan diri sendiri.
‎
‎Tidak semua luka terlihat.
‎
‎Ada luka yang tidak berdarah, tetapi terasa setiap kali kita mengingat masa lalu.
‎
‎Ada kegagalan yang sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi masih terus kita hukum di dalam pikiran.
‎
‎Ada perkataan seseorang yang hanya diucapkan beberapa menit, tetapi kita bawa selama bertahun-tahun.
‎
‎Ada kesalahan yang sudah kita akui di hadapan Tuhan, tetapi belum kita lepaskan dari hati kita sendiri.
‎
‎Akibatnya, tubuh kita mungkin sudah berjalan ke depan, tetapi hati kita masih tinggal di masa lalu.
‎
‎Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
‎
‎“Apakah saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri?”
‎
‎Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya dapat membawa kita kepada sebuah perjalanan rohani yang sangat dalam.
‎
‎Sebab bagaimana mungkin kita membangun orang lain dengan sehat jika di dalam diri kita sendiri masih ada luka yang belum dipulihkan?
‎
‎Bagaimana mungkin kita membawa damai kepada orang lain jika hati kita sendiri masih penuh peperangan?
‎
‎Bagaimana mungkin kita mengajarkan kasih karunia kepada orang lain jika kita sendiri belum mampu menerima kasih karunia Tuhan atas hidup kita?
‎
‎Karena itu, berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara ego atau mencintai diri secara berlebihan. Ini adalah bagian dari proses menerima kasih karunia Tuhan dan mengizinkan Dia memulihkan hati kita.
‎
‎Firman Tuhan berkata:
‎
‎“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
‎Markus 12:31
‎
‎Ada sesuatu yang menarik dalam perkataan Yesus tersebut.
‎
‎Kita diperintahkan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
‎
‎Artinya, bagaimana kita memandang diri sendiri juga berpengaruh terhadap bagaimana kita memperlakukan orang lain.
‎
‎Orang yang terus-menerus membenci dirinya akan kesulitan memberikan kasih yang sehat.
‎
‎Orang yang tidak berdamai dengan dirinya dapat membawa luka ke dalam keluarga, persahabatan bahkan pelayanan.
‎
‎Sebaliknya, orang yang mengalami pemulihan di dalam Tuhan akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menjadi saluran pemulihan bagi orang lain.
‎
‎Karena itu, berdamai dengan diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa kita sempurna.
‎
‎Berdamai dengan diri berarti berani berkata:
‎
‎«“Saya pernah salah, tetapi saya tidak harus selamanya hidup sebagai orang yang salah.”
‎
‎“Saya pernah gagal, tetapi kegagalan bukan identitas saya.”
‎
‎“Saya pernah terluka, tetapi luka tidak harus menentukan masa depan saya.”
‎
‎“Saya tidak sempurna, tetapi saya dikasihi Tuhan dan masih sedang dibentuk-Nya.”»
‎
‎Ada tiga langkah penting yang perlu kita jalani.
‎
‎
‎1. MENERIMA DIRI SEBAGAI PRIBADI YANG DIKASIHI TUHAN
‎
‎“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.”
‎Mazmur 139:14
‎
‎Sering kali kita mengukur nilai diri berdasarkan keberhasilan.
‎
‎Ketika pelayanan berhasil, kita merasa berharga. Ketika mendapat penghargaan, kita merasa diterima. Tetapi ketika mengalami kegagalan, kritik atau penolakan, kita mulai mempertanyakan diri sendiri.
‎
‎Padahal nilai diri kita tidak ditentukan oleh keberhasilan pelayanan, jabatan, pujian manusia, ataupun penilaian orang lain.
‎
‎Kita berharga karena Tuhan mengasihi kita.
‎
‎Kita perlu belajar mengatakan:
‎
‎“Saya tidak sempurna, tetapi saya dikasihi Tuhan.”
‎
‎Kita mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kita memiliki karakter yang masih harus dibentuk. Kita juga mempunyai kelemahan yang mungkin belum selesai.
‎
‎Namun kelemahan tidak membuat kita kehilangan nilai di hadapan Tuhan.
‎
‎Paulus berkata:
‎
‎“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
‎2 Korintus 12:9
‎
‎Menerima diri bukan berarti berhenti memperbaiki diri.
‎
‎Menerima diri berarti kita tidak lagi membenci diri sendiri karena belum sempurna.
‎
‎Kita menerima diri sambil terus memberi kesempatan kepada Tuhan untuk membentuk kita.
‎
‎
‎
‎2. MELEPASKAN MASA LALU: KEGAGALAN BUKAN IDENTITAS KITA
‎
‎Setiap orang mempunyai masa lalu.
‎
‎Ada kesalahan yang pernah dilakukan.
‎
‎Ada keputusan yang disesali.
‎
‎Ada hubungan yang rusak.
‎
‎Ada perkataan yang menyakitkan.
‎
‎Ada kegagalan dalam keluarga, pekerjaan maupun pelayanan.
‎
‎Tetapi kita harus memahami satu hal:
‎
‎Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup, tetapi bukan penentu seluruh masa depan kita.
‎
‎Rasul Paulus berkata:
‎
‎“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”
‎Filipi 3:13
‎
‎Paulus tidak menyangkal masa lalunya. Ia tahu siapa dirinya dan apa yang pernah dilakukannya.
‎
‎Tetapi ia tidak membiarkan masa lalu menjadi penjara.
‎
‎Demikian pula dengan kita.
‎
‎Kita perlu belajar mengakui, mengampuni dan menyerahkan.
‎
‎Akui apa yang salah.
‎
‎Ampuni orang yang pernah melukai.
‎
‎Ampuni diri sendiri.
‎
‎Kemudian serahkan semuanya kepada Tuhan.
‎
‎Sebab ada orang yang sudah bertahun-tahun menerima pengampunan Tuhan, tetapi masih terus menghukum dirinya sendiri.
‎
‎Padahal:
‎
‎“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita.”
‎1 Yohanes 1:9
‎
‎Kegagalan adalah peristiwa, bukan identitas.
‎
‎Kita boleh berkata:
‎
‎“Saya pernah gagal.”
‎
‎Tetapi jangan berkata:
‎
‎“Saya adalah orang gagal.”
‎
‎Petrus pernah menyangkal Yesus. Namun kegagalan Petrus bukan akhir dari panggilannya. Yesus memulihkan Petrus dan kembali mempercayakan pelayanan kepadanya.
‎
‎Karena itu, jangan biarkan satu kegagalan menghapus seluruh karya Tuhan dalam hidup kita.
‎
‎Apa yang pernah menghancurkan kita dapat Tuhan ubah menjadi bagian dari kesaksian pemulihan kita.
‎
‎
‎3. MENJALANI PANGGILAN TANPA PERBANDINGAN
‎
‎Salah satu hal yang sering merampas damai sejahtera adalah membandingkan diri dengan orang lain.
‎
‎Kita melihat pelayanan orang lain dan mulai bertanya:
‎
‎“Kenapa dia lebih dipercaya?”
‎
‎“Kenapa pelayanannya lebih besar?”
‎
‎“Kenapa dia lebih dihargai?”
‎
‎“Kenapa hidup saya tidak seperti dia?”
‎
‎Perbandingan membuat kita lupa bahwa Tuhan memberikan panggilan yang berbeda kepada setiap orang.
‎
‎Dalam Yohanes 21:22, ketika Petrus bertanya mengenai murid yang lain, Yesus menjawab:
‎
‎“Apakah urusanmu? Ikutlah Aku.”
‎
‎Ini adalah panggilan untuk kembali fokus kepada Tuhan.
‎
‎Kita tidak dipanggil menjadi orang lain. Kita dipanggil menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki.
‎
‎Ada pelayanan yang terlihat oleh banyak orang.
‎
‎Ada pelayanan yang dilakukan dalam keheningan.
‎
‎Ada yang berkhotbah.
‎
‎Ada yang mengajar.
‎
‎Ada yang mendoakan.
‎
‎Ada yang melayani anak-anak.
‎
‎Ada yang membersihkan gereja.
‎
‎Ada yang menguatkan satu orang yang sedang mengalami kehancuran.
‎
‎Tidak semua pelayanan terlihat, tetapi setiap kesetiaan berharga di hadapan Tuhan.
‎
‎Karena itu, jangan membandingkan panggilan kita dengan panggilan orang lain.
‎
‎Ukuran pelayanan bukan seberapa besar kita terlihat, tetapi seberapa setia kita menjalankan apa yang Tuhan percayakan.
‎
‎Ketika kita sudah berdamai dengan diri sendiri, kita tidak lagi melayani untuk mencari pengakuan.
‎
‎Kita tidak perlu membuktikan bahwa kita lebih hebat.
‎
‎Kita tidak perlu mengejar pujian.
‎
‎Kita dapat berkata:
‎
‎“Saya melayani bukan supaya saya berharga. Saya melayani karena saya sudah dikasihi Tuhan.”
‎
‎
‎
‎BERDAMAI DENGAN DIRI, DIPULIHKAN UNTUK MENJADI BERKAT
‎
‎Seorang pelayan yang belum berdamai dengan dirinya dapat membawa luka ke dalam pelayanan.
‎
‎Hati yang terluka dapat melukai.
‎
‎Hati yang penuh kepahitan dapat membawa kepahitan.
‎
‎Tetapi hati yang mengalami pemulihan dapat menjadi tempat orang lain menemukan pengharapan.
‎
‎Karena itu Tuhan tidak hanya ingin menggunakan tangan kita untuk bekerja, tetapi juga ingin menyembuhkan hati kita.
‎
‎Pelayanan bukan sekadar tentang apa yang kita lakukan untuk Tuhan.
‎
‎Pelayanan juga berbicara tentang siapa kita ketika melakukan pelayanan itu.
‎
‎Tiga pokok yang perlu kita bawa:
‎
‎1. TERIMA DIRIMU
‎Aku adalah pribadi yang dikasihi dan sedang dibentuk Tuhan.
‎
‎2. LEPASKAN MASA LALUMU
‎Aku pernah gagal, tetapi kegagalan bukan identitasku.
‎
‎3. JALANI PANGGILANMU
‎Aku tidak perlu menjadi seperti orang lain. Aku hanya perlu setia mengikuti Tuhan.
‎
‎
‎
‎PENUTUP
‎
‎Mungkin hari ini ada seseorang yang masih berperang dengan dirinya sendiri.
‎
‎Masih menyalahkan diri.
‎
‎Masih mengingat kegagalan.
‎
‎Masih terluka oleh perkataan orang.
‎
‎Masih merasa tidak layak.
‎
‎Hari ini, mari berhenti sejenak.
‎
‎Tarik napas.
‎
‎Datang kepada Tuhan.
‎
‎Dan katakan:
‎
‎“Tuhan, aku menerima diriku karena Engkau terlebih dahulu menerimaku.”
‎
‎“Aku menyerahkan masa laluku kepada-Mu.”
‎
‎“Aku mengampuni mereka yang telah melukaiku.”
‎
‎“Aku juga belajar mengampuni diriku sendiri.”
‎
‎“Aku tidak akan lagi hidup dalam perbandingan.”
‎
‎“Aku mau menjalani panggilanku dengan setia.”

‎
‎“Pulihkan hatiku, supaya melalui hidupku orang lain juga mengalami pemulihan.”
‎
‎Sebab berdamai dengan diri sendiri bukan berarti

 berhenti bertumbuh; berdamai dengan diri berarti berhenti berperang melawan diri sendiri dan mulai berjalan bersama Tuhan dalam proses pemulihan.
‎
‎Hati yang berdamai akan menghadirkan damai.
‎Hati yang dipulihkan akan mampu memulihkan.
‎Dan hidup yang telah disentuh kasih karunia akan menjadi berkat bagi banyak orang.
‎
‎PS. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
‎

×
Berita Terbaru Update