Pematangsiantar – Suasana haru dan isak tangis menyelimuti Lapangan Merdeka (Taman Bunga) Kota Pematangsiantar pada Sabtu (27/06/2026) sekira pukul 10.00 WIB. Keluarga korban bersama Tim Penasihat Hukum menggelar aksi damai berupa doa bersama dan tabur bunga untuk mengenang wafatnya Jaka Jannes Malau (24).
Almarhum Jaka merupakan pemuda yang meninggal dunia akibat menjadi korban penganiayaan berat oleh sekelompok oknum Organisasi Kepemudaan (OKP) beberapa waktu lalu.
Aksi simpatik ini dimulai dengan berkumpul sembari membawa spanduk dan poster tuntutan keadilan, lalu berjalan kaki (long march) menuju Taman Bunga yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Tangis Histeris Sang Ibu di Lokasi Kejadian
Sesampainya di lokasi, tangis sang ibu langsung pecah saat memeluk spanduk bergambar wajah putranya. Kesedihan mendalam semakin terasa ketika ibu korban menghampiri area di tengah taman yang menjadi tempat peristirahatan atau keberadaan terakhir korban sebelum insiden berdarah itu terjadi.
Sembari menangis histeris, ibu korban menaburkan beras dan padi yang dibawanya dari rumah sebagai simbol adat dan pengharapan.
"Ini beras dan padi saya bawa dari rumah. Ini melambangkan status kehidupan bagi saya dan semuanya, lambang keselamatan bagi kita. Kita memohon kepada Tuhan supaya kejadian yang dialami anak saya tidak terulang lagi di Kota Pematangsiantar. Cukuplah anak saya yang terakhir menjadi korban, khususnya di Taman Bunga ini," ucap ibu korban di sela isak tangisnya.
Dirinya juga teringat ucapan mendiang anaknya yang memprihatinkan mengenai kondisi tempat tinggal sementaranya saat malam hari. Di lokasi tersebut, beberapa pakaian milik almarhum juga terlihat masih tertinggal.
"Mamak sudah datang, Nak. Kau di mana?" ratap sang ibu sembari menyebut nama putranya.
Tuntutan Keadilan dan Prosesi Ibadah
Setelah menyambangi titik singgah korban, pihak keluarga kembali ke TKP utama untuk memulai prosesi inti yang dibuka oleh salah satu Tim Penasihat Hukum. Acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin, penaburan bunga, dan ucapan perpisahan dari keluarga, penasihat hukum, serta warga sekitar yang ikut bersimpati di lokasi.
Saat menabur bunga, ibu korban kembali tak kuasa menahan emosinya mengingat kekejaman para pelaku yang mengeroyok anaknya secara brutal.
Usai prosesi tabur bunga, acara dilanjutkan dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Jefry Manurung, M.Pd. Ibadah diawali dengan menyanyikan lagu rohani Kidung Jemaat No. 363 berjudul "Bagi Yesus Kuserahkan", dilanjutkan dengan pembacaan firman Tuhan, doa bersama untuk ketenangan almarhum, serta diakhiri dengan foto bersama. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan khidmat, aman, dan lancar hingga selesai.
Desakan Ruang Publik yang Aman
Kegiatan ini digelar bukan hanya untuk mengenang almarhum, melainkan juga sebagai bentuk keprihatinan mendalam sekaligus tuntutan moral agar ruang publik di Kota Pematangsiantar bersih dari aksi premanisme dan kekerasan.
Perwakilan keluarga korban menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan emosional dari warga yang hadir. Pihak keluarga dan tim hukum menegaskan komitmen mereka untuk terus mengawal kasus ini agar para pelaku dihukum seadil-adilnya, sekaligus berharap tidak ada lagi nyawa warga Pematangsiantar yang melayang akibat aksi kekerasan serupa.(Natal Gurning, S.H)

