![]() |
| Sulaiman Siregar |
Tapanuli Selatan - sumutpos.id - Perlawanan warga Kampung Darek terhadap narkoba akhirnya berbuah. Setelah spanduk penolakan bertebaran di sepanjang Jalan Alboin Hutabarat dengan kalimat tegas “Pengedar Narkoba adalah Pengkhianat Bangsa”, tim Opsnal Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan bergerak. Dua pria berinisial DS dan RR diamankan bersama enam paket sabu, timbangan digital, plastik klip, handphone, dan uang tunai diduga hasil transaksi.
Ini bukan sekadar penangkapan. Ini pesan: ketika masyarakat bersatu, tekanan sosial bisa mengguncang jaringan yang selama ini merasa aman. Kampung Darek memberi pelajaran—melawan narkoba bukan hanya tugas polisi, tapi tugas satu kampung.
*Tapi mengapa harus menunggu warga menjerit dulu?*
Mengapa spanduk harus dipasang, warga harus turun sendiri, menanggung takut, baru penindakan terasa? Jawabannya pahit: narkoba tumbuh subur di ruang longgar. Ketika pengawasan lemah, bandar lebih cepat dari hukum, dan masyarakat merasa aparat datang setelah masalah membesar.
Kasus ini makin serius. Dari interogasi, kedua tersangka mengaku barang haram itu dari pria berinisial P—residivis kasus narkoba. Nama P bukan nama baru bagi warga maupun aparat. Pertanyaan besarnya: mengapa pemain lama masih nyaman hidup dalam jaringan yang sama?
Di sisi lain, Polsek Hutaimbaru menggelar Grebek Sarang Narkoba (GSN). Aparat turun, tokoh agama hadir, tokoh adat mendukung, lurah menyaksikan. Ironisnya, dari GSN itu masih ditemukan bong—alat isap sabu—di pondok yang diduga jadi tempat konsumsi.
Artinya jelas: persoalan belum selesai. Jika bong masih ada, jalur pasokan masih hidup. Jika “pesta” masih aktif, bandar belum benar-benar disentuh. Publik berhak bertanya: ini pemberantasan nyata, atau hanya seremonial berulang?
*Jurnalis tidak boleh berhenti di berita penangkapan.*
Pers bukan datang, menulis, lalu pulang. Jurnalis harus masuk lebih dalam: siapa pemasoknya? Siapa yang melindungi? Siapa bermain di belakang layar? Mengapa ini terus berulang?
Karena pemakai sering kali hanya korban. Korban candu, korban lingkungan, korban sistem yang gagal melindungi sejak awal. Sementara bandar tetap hidup nyaman, bersembunyi di balik wajah-wajah biasa.
Lalu kita bisa apa?
_Kita bisa berhenti diam._
Masyarakat harus berani melapor tanpa takut. Tokoh agama harus terus bersuara di mimbar. Tokoh adat harus jaga kampungnya. Pemerintah jangan hadir hanya saat kamera menyala. Polisi harus memburu sampai ke akar, bukan hanya ranting. Dan wartawan harus terus mengawal, bukan sekadar memberitakan.
Karena jika warga sudah turun sendiri menyelamatkan kampungnya, berarti ada yang gagal dalam sistem kita.
Narkoba bukan sekadar soal hukum. Ini soal masa depan. Jika hari ini kampung kalah, besok yang hilang bukan hanya generasi muda, tapi harapan seluruh daerah.
*Polda Sumatera Utara, mata kami tertuju padamu.*
