TEHERAN,SUMUTPOS.ID – Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan menghantam sejumlah titik strategis di Teheran dan kota-kota besar Iran lainnya. Konflik yang kini memasuki minggu ketiga ini telah memicu krisis kemanusiaan hebat dan mengancam stabilitas ekonomi global.
Ekskalasi Serangan Udara
Berdasarkan laporan terbaru pada Rabu (18/3/2026), kementerian terkait di Iran mengonfirmasi bahwa agresi militer tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga berdampak pada warga sipil. Sedikitnya 108 situs bersejarah dan budaya dilaporkan hancur akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Operation Epic Fury (AS) dan Roaring Lion (Israel).
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan jumlah korban jiwa terus bertambah, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak. Di Teheran, warga terlihat bahu-membahu membersihkan puing-puing bangunan di tengah ancaman serangan susulan.
Balasan Iran dan Penutupan Selat Hormuz
Tidak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan ribuan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone). Target utama Iran mencakup pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas di Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Yang paling krusial, Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik AS, Israel, dan sekutunya. Langkah ini memicu kekhawatiran akan macetnya pasokan minyak dunia, mengingat selat tersebut merupakan jalur urat nadi energi global.
Dampak bagi Indonesia
Eskalasi ini berdampak langsung pada kebijakan luar negeri Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan memutuskan untuk menunda pengiriman sekitar 8.000 pasukan perdamaian ke Gaza karena situasi keamanan yang tidak menentu.
"Semua di-hold sampai batas waktu yang belum ditentukan akibat konflik Israel-AS dengan Iran," ujar pihak pemerintah dalam keterangan resminya di Jakarta.
Situasi Diplomatik
Hingga saat ini, upaya diplomasi terlihat buntu. Presiden AS Donald Trump bersikeras melanjutkan tekanan militer, sementara pihak Teheran menegaskan tidak akan ada dialog selama agresi di tanah mereka masih berlangsung. Di sisi lain, negara-negara seperti China dan Rusia terus menyerukan deeskalasi segera untuk mencegah perang terbuka yang lebih luas.
Analisis Singkat:
Konflik ini diprediksi akan terus memanas dalam beberapa hari ke depan, mengingat kedua belah pihak belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan gencatan senjata. Bagi pembaca di Sumatera Utara, dampak ekonomi seperti kenaikan harga BBM akibat gangguan di Selat Hormuz menjadi hal yang perlu diwaspadai dalam waktu dekat. (Ald*Red)
