-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tak Cukup Sujud di Depan Menteri, Bupati Nias Utara Desak Bertemu Presiden: "Saya Ingin Ketuk Pintu Pak Prabowo!"

Sabtu, 07 Maret 2026 | Maret 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-07T12:44:22Z

 


JAKARTA,SUMUTPOS.ID – Aksi dramatis Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, yang bersujud di hadapan para pejabat pusat dalam Rapat Koordinasi Kemendes PDT (25/2/2026), menyisakan pesan mendalam. Tak sekadar aksi simbolis, Amizaro secara terbuka melayangkan permohonan khusus: ia ingin bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.


​Bagi Amizaro, urusan kemiskinan di 30 daerah tertinggal (3T) sudah pada tahap darurat yang membutuhkan intervensi langsung dari pemegang kekuasaan tertinggi.


Bukan Tak Percaya Menteri, Tapi Butuh Solusi Konkret

​Di hadapan forum yang dihadiri para pejabat eselon dan kementerian, Amizaro menegaskan bahwa sebagai kepala daerah di pelosok, ia merasa suaranya seringkali terhambat oleh sekat birokrasi.


​"Saya sebagai bupati merasa tidak ada apa-apanya, dengan cara apa saya bertarung? Tidak ada. Sehingga di hari yang berbahagia ini saya mohon... termasuk kami mohon akses kami kepada Bapak Presiden Republik Indonesia," tegasnya dengan suara bergetar.


​Keinginan bertemu Presiden Prabowo ini didasari oleh realitas pahit di Nias Utara. Di saat Jakarta dan Jawa sibuk bertransformasi menuju ekonomi digital dan Artificial Intelligence (AI), rakyatnya masih terjebak dalam kegelapan malam tanpa listrik dan akses jalan yang layak.


"Kemerdekaan Kami di Mana?"

​Permintaan bertemu Presiden ini dianggap sebagai upaya terakhir Amizaro untuk menanyakan nasib rakyatnya yang merasa "terlupakan" selama 80 tahun Indonesia merdeka.


​"Kami sudah capek miskin, Pak. Kami ingin menyampaikan langsung kondisi riil ini ke puncak kekuasaan," lanjutnya. Ia ingin memastikan bahwa janji pemerintah pusat untuk membangun dari pinggiran bukan sekadar jargon politik di atas kertas, melainkan aksi nyata yang sampai ke pelosok Nias.


Aksi Sujud yang Mengguncang Ruangan

​Momen Amizaro bersujud di samping podium menjadi saksi betapa beratnya beban yang ia pikul sebagai koordinator 30 kabupaten tertinggal. Ia seolah menanggalkan seluruh martabat jabatannya demi harga diri rakyatnya yang masih bergelut dengan kemiskinan ekstrem.


​Para pejabat yang hadir tampak tertegun. Sebagian memberikan tepuk tangan tanda simpati, namun sebagian lain terdiam menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi di forum formal kenegaraan tersebut.


Kini, bola panas ada di tangan pemerintah pusat. Akankah sujud dan permintaan tulus Amizaro untuk mengetuk pintu Istana dikabulkan oleh Presiden Prabowo? Rakyat Nias Utara—dan 29 kabupaten tertinggal lainnya—kini menunggu jawaban nyata, bukan sekadar janji manis di ruang rapat.(Ald*Red)


×
Berita Terbaru Update