Jadilah Teladan dalam Keluarga:
Kesalehan yang Utuh di Antara Pelayanan Publik dan Tanggung Jawab Pribadi
Oleh Pdt. Adv. Horas Sianturi SH, MH, MTh
Jakarta, sumutpos.id 04/03/2026- Di tengah kehidupan gereja dan masyarakat, sering kita temui orang yang aktif melayani: menjadi donatur, memimpin ibadah, berkhotbah, terlibat dalam
organisasi rohani, bahkan dikenal sebagai sosok dermawan dan terhormat di ruang publik.
Namun, pertanyaan mendasar muncul: Apakah kesalehan yang terlihat di publik selalu selaras dengan kesetiaan dalam kehidupan pribadi?
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kerohanian sejati tidak pernah berdiri terpisah dari tanggung jawab dalam rumah tangga.
1. Tuhan Menilai Kehidupan yang Menyeluruh
Kitab Maleakhi 2:14–15 menegur suami yang tidak setia kepada istri masa mudanya, dengan menyatakan bahwa Tuhan sendiri adalah saksi atas perjanjian pernikahan. Ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya urusan manusia, melainkan perjanjian rohani di hadapan Allah. Selain itu, Surat 1 Timotius 5:8 menegaskan: “Jika seorang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Ayat ini berlaku bagi setiap orang percaya—kesalehan tidak boleh selektif, tidak boleh aktif di mimbar namun lalai di rumah.
2. Kesalehan Publik yang Harus Seimbang dengan Tanggung Jawab Pribadi
Bentuk kesalehan publik bisa beragam: aktif sebagai pengurus gereja, pembicara rohani, memberi persembahan besar, membantu pelayanan sosial, tampak dermawan di media sosial, atau mendapatkan penghargaan sebagai tokoh masyarakat. Semua itu baik, namun jika dalam waktu yang sama seseorang mengabaikan nafkah keluarga, tidak setia dalam pernikahan, tidak hadir sebagai orang tua bagi anak-anak, atau mengabaikan tanggung jawab moral dan hukum, maka terjadi ketidakseimbangan rohani. Yesus mengingatkan dalam Matius 23:23 tentang orang yang rajin melakukan hal-hal lahiriah namun mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Tuhan tidak terkesan pada aktivitas rohani yang tidak diiringi integritas hidup.
3. Standar Integritas bagi Pemimpin Rohani
Alkitab sangat tegas mengenai syarat pemimpin gereja:
- Penatua (1 Timotius 3:2–5): Tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, kepala keluarga yang baik dengan anak-anak yang patuh. Firman berkata: “Jikalau seorang tidak tahu mengatur rumah tangganya sendiri, bagaimana ia dapat mengurus Jemaat Allah?”
- Diaken (1 Timotius 3:8–12): Terhormat, tidak bercabang lidah, tidak serakah, memelihara rahasia iman dengan hati nurani suci, suami dari satu istri, dan mengurus anak-anak serta keluarga dengan baik.
Standar ini menunjukkan bahwa pelayanan publik selalu diuji dari kehidupan pribadi—Tuhan menilai kepemimpinan rohani dari bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya.
4. Waspadai akan Bahaya Kesalehan yang Hanya Berorientasi pada Citra
Dalam Matius 6:1, Yesus berkata: “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu supaya dilihat orang.” Kesalehan yang hanya ditujukan untuk mendapatkan pujian manusia, penghargaan sosial, atau popularitas bisa membuat kita kehilangan perkenanan Tuhan. Sebab Tuhan melihat ruang yang tidak terlihat publik: meja makan keluarga, percakapan suami-istri, dan perhatian kepada anak-anak.
5. Tuhan Menghendaki Kesetiaan, Bukan Sekadar Aktivitas
Prinsip ini ditegaskan dalam 1 Samuel 15:22—ketaatan lebih baik daripada korban persembahan. Tuhan lebih menghargai suami yang setia, ayah yang hadir, ibu yang membangun rumah tangga dalam takut akan Tuhan, dan anak yang hormat kepada orang tua, daripada sekadar simbol-simbol religius yang tidak diiringi integritas.
6. Jalan Pemulihan Selalu Terbuka
Firman Tuhan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memulihkan. Jika ada ketidakseimbangan antara pelayanan dan tanggung jawab keluarga, jalan keluarnya adalah melalui pertobatan, pengakuan kesalahan, pemulihan relasi, dan penataan ulang prioritas. Tuhan selalu memberi kesempatan untuk kembali kepada prinsip yang benar.
Kesalehan sejati adalah kesatuan antara iman, integritas, dan tanggung jawab. Pelayanan yang kuat lahir dari keluarga yang sehat. Jabatan rohani tidak dapat menggantikan kesetiaan pernikahan, dan aktivitas gereja tidak bisa menutupi kelalaian terhadap anak-anak. Di hadapan Tuhan, yang diuji bukan hanya apa yang kita lakukan di altar, tetapi bagaimana kita hidup di rumah. Kiranya kita semua menyadari bahwa gereja yang paling pertama Tuhan percayakan kepada kita adalah keluarga kita sendiri.
Penulis.
Ketua Sinode
Gereja Cahaya Kemuliaan.
