TEHERAN ,SUMUTPOS.ID– Situasi di Timur Tengah berada di ambang perang total setelah aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke jantung pertahanan Iran dalam sepekan terakhir. Eskalasi militer yang kian tak terkendali ini mulai memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global, termasuk ancaman nyata bagi pasar domestik di Indonesia.
Hingga Jumat (6/3/2026), laporan intelijen mengonfirmasi bahwa militer AS dan Israel telah membombardir lebih dari 2.000 titik strategis di Iran. Serangan tersebut menyasar fasilitas nuklir, gudang rudal balistik, hingga pusat komando Garda Revolusi Iran (IRGC). Teheran pun membalas dengan meluncurkan ratusan drone dan rudal ke wilayah Tel Aviv serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Dampak Ekonomi di Depan Mata
Konflik ini tidak hanya menjadi urusan militer. Penutupan sepihak Selat Hormuz oleh Iran—jalur distribusi 20 persen minyak dunia—telah menyebabkan harga minyak mentah melonjak tajam melewati ambang batas normal. Kondisi ini mulai dirasakan dampaknya di tanah air.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami tekanan jual, sementara nilai tukar rupiah mulai bergejolak terhadap dolar AS. Bagi masyarakat di Sumatera Utara, kekhawatiran tertuju pada potensi kenaikan harga logistik dan barang kebutuhan pokok akibat melambungnya ongkos angkut internasional.
WNI dalam Pantauan
Kementerian Luar Negeri RI terus memantau keselamatan ribuan WNI yang berada di wilayah terdampak. "Pemerintah sedang menyusun skema evakuasi darurat bagi warga negara kita di Teheran dan sekitarnya jika situasi kian memburuk," tulis keterangan resmi pemerintah.
Sikap Indonesia
Presiden RI dalam pernyataan terbarunya mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Indonesia menegaskan prinsip politik bebas aktif dan menolak segala bentuk agresi yang mencederai kedaulatan sebuah negara serta mengancam warga sipil.
Di Medan dan beberapa kota besar di Sumut, pengamat ekonomi mengingatkan agar pemerintah daerah segera memetakan stok pangan dan energi sebagai langkah antisipasi jika krisis di Timur Tengah berlangsung lama.(Ald*Red)
