TEHERAN/WASHINGTON – SumutPos.id; Dunia internasional memasuki fase ketegangan tertinggi dalam dekade ini. Pada Minggu (1/3/2026) dini hari, sebuah serangan udara besar-besaran yang dikomandoi oleh Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menghantam titik-titik strategis di wilayah kedaulatan Iran, memicu respons militer cepat yang mengancam stabilitas global.
Eskalasi Militer di Jantung Teheran
Laporan dari lapangan mengonfirmasi ledakan hebat terdengar di Teheran dan beberapa fasilitas nuklir serta militer Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan pers mendadak, mengklaim bahwa serangan tersebut menargetkan pusat komando tinggi Iran. Spekulasi mengenai nasib Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kini menjadi sorotan utama dunia setelah klaim yang menyebutkan dirinya ikut menjadi korban dalam operasi tersebut.
Namun, pihak Teheran melalui Garda Revolusi Iran (IRGC) membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "propaganda murahan". Sebagai bentuk balasan, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar dan Bahrain, memaksa sistem pertahanan udara Patriot bekerja ekstra keras di seluruh kawasan Teluk.
Harga Minyak dan Perak Meroket
Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga di lantai bursa global.- Ancaman Selat Hormuz: Iran telah mengeluarkan peringatan keras akan menutup total Selat Hormuz, jalur yang dilewati 20% pasokan minyak dunia. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melambung tinggi dalam hitungan jam.
- Investasi Aman (Safe Haven): Ketidakpastian politik membuat investor menarik dana dari pasar saham dan mengalihkannya ke logam mulia. Harga perak dan emas mencatatkan kenaikan harian tertinggi dalam sejarah modern, menciptakan kepanikan di pasar komoditas.
Krisis Kemanusiaan dan Reaksi Internasional
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah menyerukan gencatan senjata segera. "Dunia tidak mampu menanggung perang besar lainnya. Risiko eskalasi menjadi perang regional total sudah di depan mata," tegasnya dalam rapat darurat di New York.
Sementara itu, krisis kemanusiaan mulai membayangi setelah serangan dilaporkan mengenai wilayah pemukiman, termasuk sebuah fasilitas pendidikan di Iran. Di sisi lain, pembatalan ribuan jadwal penerbangan internasional di bandara-bandara utama seperti Dubai dan Doha telah menyebabkan puluhan ribu penumpang terdampar.
Eskalasi Militer di Jantung Teheran
Laporan dari lapangan mengonfirmasi ledakan hebat terdengar di Teheran dan beberapa fasilitas nuklir serta militer Iran.Namun, pihak Teheran melalui Garda Revolusi Iran (IRGC) membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "propaganda murahan". Sebagai bentuk balasan, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar dan Bahrain, memaksa sistem pertahanan udara Patriot bekerja ekstra keras di seluruh kawasan Teluk.
Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan di medan tempur, tetapi juga di lantai bursa global.
- Ancaman Selat Hormuz: Iran telah mengeluarkan peringatan keras akan menutup total Selat Hormuz, jalur yang dilewati 20% pasokan minyak dunia. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melambung tinggi dalam hitungan jam.
- Investasi Aman (Safe Haven): Ketidakpastian politik membuat investor menarik dana dari pasar saham dan mengalihkannya ke logam mulia. Harga perak dan emas mencatatkan kenaikan harian tertinggi dalam sejarah modern, menciptakan kepanikan di pasar komoditas.
Krisis Kemanusiaan dan Reaksi Internasional
Sementara itu, krisis kemanusiaan mulai membayangi setelah serangan dilaporkan mengenai wilayah pemukiman, termasuk sebuah fasilitas pendidikan di Iran. Di sisi lain, pembatalan ribuan jadwal penerbangan internasional di bandara-bandara utama seperti Dubai dan Doha telah menyebabkan puluhan ribu penumpang terdampar.
Dampak Bagi Indonesia
Pengamat ekonomi memprediksi jika konflik ini berlanjut lebih dari satu minggu, pemerintah Indonesia kemungkinan besar harus meninjau ulang subsidi BBM akibat lonjakan harga minyak mentah dunia. Selain itu, nilai tukar Rupiah diprediksi akan mengalami tekanan berat terhadap Dollar AS seiring dengan penguatan mata uang asing di tengah ketidakpastian global. (Ald.M/Red)
