-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hikmat di Tengah Kebijakan yang Melukai Rakyat

Senin, 16 Februari 2026 | Februari 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-16T06:03:54Z




Jakarta, sumutpos.id, 16 Februari 2026 – Jeritan dan penderitaan rakyat hari ini bukan lagi suara samar. Ia terdengar dalam dapur yang makin sepi, pada wajah buruh yang kehilangan pekerjaan, serta di tengah petani, nelayan, dan masyarakat miskin yang terjepit oleh kebijakan yang tidak berpihak pada mereka.

 

Hidup terasa semakin berat, sementara keputusan publik kerap kali lahir jauh dari denyut penderitaan masyarakat kecil.

 Di tengah situasi ini, iman Kristen tidak bisa sekadar berkata, “bersabarlah.” Pertanyaan yang jujur harus diajukan: di mana hikmat dalam kebijakan yang justru menambah beban rakyat?

 

Kekuasaan Tanpa Hikmat adalah Penyimpangan Moral

 

Alkitab mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa hikmat bukan sekadar keliru secara teknis, melainkan menyimpang secara moral.

“Oleh Aku, hikmat, raja-raja memerintah dan pembesar menetapkan keadilan.” (Amsal 8:15)

 

Ketika keadilan diabaikan, itu adalah tanda bahwa hikmat Ilahi sedang disingkirkan. Firman Tuhan tidak pernah netral terhadap ketidakadilan; Tuhan secara tegas mengecam sistem dan keputusan yang menindas rakyat:

“Celakalah mereka yang menetapkan ketetapan-ketetapan yang tidak adil.” (Yesaya 10:1)

 

Kebijakan yang dibuat demi stabilitas semu, pertumbuhan angka, atau kepentingan segelintir elite – namun mengorbankan rakyat kecil – bukan hanya gagal secara sosial, tetapi juga gagal secara rohani. Yesus sendiri menolak kesalehan yang rapi di luar namun kosong di dalam:

“Yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.” (Matius 23:23)

 

Iman yang sejati selalu diuji bukan di altar ibadah, melainkan dalam cara kita memperlakukan mereka yang paling rentan.

 

Teladan Yusuf: Hikmat yang Menjadi Kebijakan Penyelamat

 

Di tengah krisis besar, Alkitab menghadirkan teladan kepemimpinan berhikmat melalui Yusuf di Mesir. Ia tidak menyangkal kenyataan pahit, tidak menyalahkan rakyat, dan tidak memanfaatkan krisis untuk kepentingan pribadi. Ia membaca tanda zaman dan merancang solusi jangka panjang demi keselamatan banyak orang.

“Tidak ada orang yang begitu bijaksana dan berakal budi seperti engkau.” (Kejadian 41:39)

 

Hikmat Yusuf tidak berhenti pada tafsir mimpi, melainkan menjelma menjadi kebijakan konkret: penyimpanan pangan, pengelolaan sumber daya, dan perlindungan rakyat saat kelaparan melanda. Hasilnya jelas: bangsa tersebut selamat, bahkan bangsa-bangsa lain tertolong. Di sinilah iman berbicara keras kepada realitas hari ini: hikmat Ilahi selalu berpihak pada kehidupan, bukan pada citra atau keuntungan jangka pendek.

 

Yesus dan Manifesto Keadilan Sosial

 

Jika Yusuf menunjukkan hikmat dalam kebijakan, Yesus menyingkapkan hati Allah bagi keadilan sosial. Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus menyatakan keberpihakan-Nya secara terang:

“Roh Tuhan ada pada-Ku… untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin… untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.” (Lukas 4:18)

 

Ini bukan slogan rohani, melainkan manifesto Kerajaan Allah. Yesus memberi makan yang lapar, menyentuh yang tersingkir, dan memulihkan martabat manusia. Bahkan, Ia menjadikan perlakuan terhadap orang kecil sebagai ukuran iman:

“Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan.” (Matius 25:35)

 

Peringatan-Nya sungguh mengguncang:

“Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Matius 25:45)

 

Dalam terang ajaran ini, kebijakan yang mengabaikan penderitaan rakyat bukan hanya masalah politik – ia adalah masalah ketaatan kepada Kristus.

 

Kritik yang Berhikmat Harus Melahirkan Solusi

 

Iman Kristen tidak berhenti pada kecaman. Hikmat Ilahi selalu memadukan keberanian menegur dan tanggung jawab membangun.

 

1. Kebijakan Harus Dimulai dari Jeritan Rakyat

Yesus selalu memulai dari kebutuhan nyata manusia. Solusi: Pemerintah perlu sungguh-sungguh mendengar suara rakyat kecil, bukan hanya data makro, tetapi realitas hidup sehari-hari.

2. Perlindungan bagi yang Lemah Harus Menjadi Prioritas

“Belalah hak orang lemah dan orang miskin.” (Mazmur 82:3) Solusi: Jaring pengaman sosial yang tepat sasaran, perlindungan buruh, petani, nelayan, dan UMKM harus menjadi pusat kebijakan, bukan pelengkap.

3. Transparansi adalah Tanggung Jawab Moral

“Setiap orang yang dipercayakan banyak, daripadanya akan dituntut banyak.” (Lukas 12:48) Solusi: Tata kelola yang transparan, terbuka terhadap kritik, dan mau mengoreksi diri adalah tanda kepemimpinan berhikmat.

4. Gereja Dipanggil Hadir di Ruang Publik

“Iman, jika tidak disertai perbuatan, adalah mati.” (Yakobus 2:17) Solusi: Gereja harus menjadi suara profetis – mendampingi rakyat, menyuarakan keadilan, dan menjembatani dialog yang membangun.

 

Hikmat yang Menyelamatkan Bangsa

Sejarah iman mengajarkan satu kebenaran penting: bangsa tidak diselamatkan oleh kekuasaan tanpa nurani, melainkan oleh hikmat yang takut akan Tuhan dan berpihak pada kehidupan.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa.” (Amsal 14:34)

 

Di tengah penderitaan rakyat hari ini, iman Kristen dipanggil bukan untuk bersembunyi, melainkan hadir – mengkritik dengan kasih, membangun dengan solusi, dan berharap dengan teguh.

 

Kiranya lahir kembali hikmat seperti Yusuf.

Kiranya suara Yesus tentang keadilan kembali menggema.

Dan kiranya kebijakan publik kembali memiliki wajah manusia.

 

Penulis :

Pdt. Adv. Horas Sianturi SH, MH, MTh.

Ketua Sinode 

Gereja Cahaya Kemuliaan

Pematangsiantar – Sumatera Utara

 

 

 


×
Berita Terbaru Update