![]() |
| Presiden Amerika Serikat, Donald Trump |
Dalam pernyataan video melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional AS dan memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
"Beberapa saat yang lalu, atas perintah saya, militer Amerika Serikat memulai operasi tempur besar di Iran. Tujuan kami jelas: melumpuhkan kemampuan rezim yang mengancam dunia dan menghancurkan infrastruktur nuklir mereka hingga rata ke tanah," ujar Trump dalam pidatonya dari Gedung Putih.
Target Serangan dan Operasi "Epic Fury"
Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menamakan misi ini sebagai "Operation Epic Fury". Laporan awal menyebutkan gelombang serangan udara dan rudal Tomahawk menghantam beberapa titik krusial, termasuk:
- Pangkalan peluncuran rudal balistik di Kermanshah dan Isfahan.
- Fasilitas yang diduga terkait dengan pengayaan uranium di dekat Teheran.
- Infrastruktur militer milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan aktif di pusat kota Teheran sejak pukul 02.00 waktu setempat menyusul dentuman keras yang terdengar di pinggiran kota Karaj.
Gagalnya Diplomasi di Jenewa
Keputusan militer ini merupakan puncak dari ketegangan yang meningkat selama sepekan terakhir. Sebelumnya, pada Jumat (27/2), perundingan nuklir putaran ketiga di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Pihak AS mengajukan syarat ketat, termasuk pembongkaran permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz, serta penyerahan sekitar 10.000 kg stok uranium hasil pengayaan ke pihak internasional. Iran menolak keras tuntutan tersebut dan menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan.
![]() |
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio |
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras dan meminta seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Iran karena risiko konflik yang sudah di depan mata.
Respons Iran dan Reaksi Dunia
Iran langsung merespons dengan meluncurkan "Operasi Janji Setia 4" (Truthful Promise 4), yang melibatkan ratusan drone dan rudal balistik yang diarahkan ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta wilayah Israel.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini. Jakarta mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna menghindari perang terbuka yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Timur Tengah masih sangat cair dengan laporan pergerakan armada tempur AS, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford, yang semakin mendekat ke perairan Teluk. (Red*Ald*)
.jpeg)
