Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Gelar Kursus Mahir Dasar,Sebanyak 70 Guru SMP Ikut Serta.




Toba/sumutpos.id - KMD Atau Kursus Mahir Dasar adalah Merupakan Suatu Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan yang Bertujuan Memberikan Bekal Pengetahuan dasar dan Pengalaman Praktis, Membina Pramuka Melalui Kegiatan Kepramukaan dalam Satuan Pramuka yang Meliputi Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega. 


Sebanyak 70 guru dari berbagai SMP negeri dan swasta di Kabupaten Toba mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) Pembina Pramuka Penggalang yang diselenggarakan di Gedung Aula SKB Porsea. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, sejak tanggal 2-6 Juli 2025, yang bertujuan membekali para guru Pembina Pramuka dengan kompetensi dasar kepramukaan agar mampu menjadi pembina Pramuka yang Berkualitas Serta Sesuai dengan Semangat Gerakan Pramuka di sekolah meraka masing-masing.




Kursus Mahir Dasar (KMD) adalah merupakan inisiatif dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Toba yang bekerja sama dengan Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Toba. Kehadiran dari para guru dalam pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat gerakan Pramuka sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa yang terstruktur, menyenangkan, dan relevan dengan tantangan zaman.


Hari pertama pelatihan ini dimulai dengan Registrasi dan orientasi peserta, dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak belajar bersama untuk menjaga disiplin dan komitmen selama proses pelatihan. Dinamika kelompok juga menjadi bagian penting di awal kegiatan, untuk membangun kebersamaan dan kerja sama antar para peserta. 


Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kwarcab Toba bersama Kepala Bidang Pembinaan Kepemudaan, Bereghman S.A. Pane, S.Pd., M.M. 


Bereghman S.A. Pane, S.Pd., M.M. 
Kepala Bidang Pembinaan Kepemudaan, 


Dalam sambutannya, Bereghman menyampaikan bahwa Pelatihan ini sangat penting dalam membentuk guru yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mendampingi para siswa-siswi dalam kegiatan pembinaan Kepramukaan. Ia juga menegaskan bahwa pemilihan waktu pelaksanaan kursus ini, yakni menjelang tahun ajaran baru, sengaja dirancang agar tidak mengganggu kegiatan belajar - mengajar di sekolah.


Bereghman menyampaikan harapannya  kepada seluruh  peserta agar mampu menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan ini di sekolah masing-masing, khususnya dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang akan segera berlangsung. 


Menurutnya, momen MPLS menjadi waktu yang tepat untuk langsung mengaplikasikan keterampilan kepramukaan sebagai bagian dari pengenalan nilai-nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan karakter positif kepada para siswa baru.


Selama 5 hari pelaksanaan, peserta dibekali materi seputar prinsip dasar kepramukaan, metode pelatihan, keterampilan praktis, hingga simulasi kegiatan lapangan. Materi-materi ini disampaikan secara aplikatif agar para peserta dapat langsung mengimplementasikannya di sekolah.


Pada hari keempat, pelatihan mendapatkan perhatian khusus dari Wakil Bupati Toba sekaligus Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Toba, Drs. Audi Murphy O. Sitorus, S.H., M.Si., yang hadir langsung memberikan motivasi dan arahan kepada peserta. Dalam sambutannya, Audi Murphy menegaskan bahwa gerakan Pramuka harus menjadi bagian utama dalam pembangunan karakter siswa di sekolah. Ia menyebut bahwa kepala sekolah harus diberi pemahaman oleh Dinas Pendidikan bahwa dana BOS atau sumber lain perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung kegiatan kepramukaan.


Menurutnya, kegiatan Pramuka bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen penting dalam mencetak generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan mandiri. Ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap masih adanya perbedaan pandangan di kalangan kepala sekolah soal pentingnya kepramukaan. Oleh karena itu, ia mendorong agar pembina yang sudah mengikuti KMD benar-benar diberi ruang untuk berkarya dan memimpin kegiatan Pramuka di sekolah masing-masing, terutama dalam kegiatan MPLS Tegas Audy Murphy Sitorus  kepada Para Peserta. 


Ia juga menekankan perlunya pemerataan dalam penyediaan alat-alat Pramuka dan pentingnya kreativitas dalam memanfaatkan anggaran secara akuntabel. Sebagai tokoh yang telah bergelut dengan Gerakan Pramuka sejak tahun 1999, Audi Murphy membagikan Pengalaman bahwa kepramukaan sudah menjadi bagian dari hidupnya, bukan karena bayaran, tetapi karena rasa cinta dan panggilan hati.


Ia juga mendorong agar seluruh guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah untuk bersinergi menjadikan Pramuka sebagai gerakan yang hidup, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik. Ia berharap para guru yang telah mengikuti KMD tidak hanya menjalankan tugas sebagai kewajiban, tetapi menjadikannya sebagai Panggilan Jiwa.


Dengan semangat baru dan pembina yang terlatih, gerakan Pramuka di Toba dalam diharapkan bangkit kembali sebagai kekuatan moral dalam pendidikan generasi muda Tegas Bereghman kepada Media. 

(Red Spid/Manroe)

Lebih baru Lebih lama