IMAN MENGALAHKAN MAUT
Ketika Tidak Ada Jalan, Allah Membuka Jalan
Oleh: Pdt. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th.
![]() |
| Pdt.Horas Sianturi, SH.MH.MTh |
Jakarta/27/09/2026/ Sumutpos.id - Ada saat dalam kehidupan ketika manusia berhadapan dengan keadaan yang membuatnya takut. Ada ancaman yang tidak dapat dihindari, persoalan yang seolah tidak memiliki jalan keluar, dan tembok kehidupan yang terasa terlalu tinggi untuk diruntuhkan.
Pada saat seperti itu, pertanyaannya bukan lagi: “Seberapa besar kekuatan kita?”
Melainkan:
“Seberapa besar kita percaya kepada Allah?”
Ibrani 11:23, 28, dan 30 memberikan sebuah rangkaian kesaksian yang luar biasa tentang iman:
«“Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya…”»
«“Karena iman maka ia mengadakan Paskah dan pemercikan darah…”»
«“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho…”»
Tiga ayat tersebut memperlihatkan tiga situasi yang berbeda: ancaman maut, kebutuhan akan keselamatan, dan tembok yang mustahil ditembus.
Namun semuanya memiliki satu kata yang sama:
IMAN.
1. IMAN MEMBUAT KITA TIDAK TAKUT MENGHADAPI ANCAMAN
Ketika Musa lahir, keadaan sedang tidak berpihak kepadanya. Ada keputusan penguasa yang mengancam kehidupan bayi-bayi laki-laki Israel.
Tetapi orang tua Musa memilih percaya kepada Allah.
Mereka melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh dunia.
Dunia melihat seorang bayi yang terancam maut.
Tetapi iman melihat masa depan yang ada di dalam tangan Allah.
Inilah kekuatan iman.
Iman tidak selalu menghilangkan ancaman, tetapi iman membuat kita tidak dikuasai oleh ancaman.
Ada orang yang hari ini sedang hidup dalam ketakutan.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut menghadapi persoalan keluarga.
Takut menghadapi masa depan.
Takut menghadapi tekanan hidup.
Takut karena persoalan yang belum selesai.
Namun firman Tuhan mengingatkan:
Jangan biarkan apa yang sedang terjadi menentukan apa yang akan Anda percayai tentang Allah.
Keadaan dapat berubah.
Manusia dapat berubah.
Situasi dapat berubah.
Tetapi Allah tetap setia.
Apa yang tampak sebagai ancaman terhadap Musa justru menjadi bagian dari perjalanan menuju panggilan Allah atas hidupnya.
Karena itu, jangan buru-buru menganggap masa sulit sebagai akhir cerita.
Bisa jadi, Allah sedang menulis babak baru yang belum kita lihat.
2. IMAN MEMBAWA KITA BERLINDUNG DALAM KESELAMATAN ALLAH
Ibrani 11:28 berbicara tentang Paskah dan pemercikan darah.
Israel sedang berada di tengah peristiwa besar. Maut akan melewati negeri itu.
Tetapi Allah memberikan jalan keselamatan.
Mereka harus percaya.
Mereka harus taat.
Mereka harus melakukan apa yang diperintahkan Allah.
Ada sebuah prinsip penting:
Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan.
Tidak cukup hanya berkata, “Saya percaya Tuhan.”
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita mau melakukan apa yang Tuhan perintahkan?
Israel tidak diselamatkan karena mereka lebih kuat daripada bangsa lain.
Mereka diselamatkan karena Allah menyediakan jalan keselamatan dan mereka merespons dengan iman dan ketaatan.
Bagi orang percaya masa kini, kisah Paskah menunjuk kepada karya keselamatan Allah yang digenapi di dalam Kristus.
Karena itu, dasar pengharapan kita bukanlah kemampuan manusia.
Bukan kekayaan.
Bukan jabatan.
Bukan kekuatan.
Bukan keberanian manusia.
Dasar keselamatan kita adalah Allah.
Ketika dunia berbicara tentang ketakutan, iman berbicara tentang pengharapan.
Ketika dunia berkata, “Tidak ada jalan,” iman berkata:
“Allah masih menyediakan jalan.”
3. IMAN MERUNTUHKAN TEMBOK YANG TERLIHAT MUSTAHIL
Kemudian kita sampai pada Yerikho.
Ibrani 11:30 berkata:
«“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.”»
Perhatikan kalimatnya:
“Setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.”
Tembok tidak langsung runtuh.
Ada proses.
Ada penantian.
Ada ketaatan.
Ada langkah yang harus dilakukan berulang-ulang.
Bayangkan jika Israel berkata pada hari kedua:
“Tidak ada perubahan. Kita berhenti saja.”
Mereka tidak akan sampai kepada mujizat yang Allah sediakan.
Sering kali persoalan kita bukan karena Allah tidak bekerja.
Tetapi karena kita berhenti terlalu cepat.
Kita berdoa sekali lalu menyerah.
Kita mencoba sekali lalu mengatakan gagal.
Kita menghadapi satu masalah lalu mengatakan tidak mungkin.
Padahal bisa jadi, Allah sedang berkata:
“Terus berjalan.”
Tidak semua tembok runtuh pada hari pertama.
Tidak semua doa dijawab seketika.
Tidak semua perjuangan menghasilkan perubahan dalam satu malam.
Tetapi iman berkata:
“Saya akan tetap berjalan bersama Tuhan.”
Dan ketika waktunya tiba, Allah sanggup melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia.
MAUT BUKAN AKHIR
Ada satu hal yang lebih besar daripada persoalan, ancaman, dan tembok kehidupan:
Allah yang kita sembah.
Maut bukan akhir bagi orang yang berharap kepada Allah.
Kegagalan bukan akhir.
Penderitaan bukan akhir.
Persoalan bukan akhir.
Bahkan ketika manusia melihat sebuah pintu tertutup, Allah masih sanggup membuka jalan yang tidak pernah kita pikirkan.
Inilah sebabnya iman sangat penting.
Iman membuat kita melihat melampaui keadaan.
Iman tidak menyangkal kenyataan.
Iman mengakui bahwa masalah itu ada, tetapi percaya bahwa Allah lebih besar daripada masalah itu.
Iman mengakui bahwa ada tembok, tetapi percaya bahwa Allah sanggup meruntuhkannya.
Iman mengakui bahwa maut itu nyata, tetapi percaya bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan keselamatan.
JANGAN KEMBALI KE MASA LALU, TERUSLAH BERJALAN DALAM IMAN
Mungkin hari ini kita sedang berada di antara Mesir dan Tanah Perjanjian.
Di belakang ada masa lalu.
Di depan ada janji Allah.
Di sekitar kita ada tekanan.
Tetapi Tuhan tidak memanggil kita untuk kembali.
Tuhan memanggil kita untuk maju.
Jangan kembali kepada ketakutan.
Jangan kembali kepada keputusasaan.
Jangan kembali kepada kehidupan lama yang telah Tuhan lepaskan.
Teruslah berjalan.
Sebab iman bukan hanya tentang bagaimana kita memulai perjalanan.
Iman juga tentang bagaimana kita bertahan sampai melihat karya Allah.
Musa melewati ancaman.
Israel melewati malam Paskah.
Yosua melewati tembok Yerikho.
Dan semuanya memberikan kesaksian yang sama:
“Karena iman…”
IMAN YANG HIDUP ADALAH IMAN YANG BERANI MELANGKAH
Iman bukan sekadar kata-kata di bibir.
Iman adalah keberanian untuk melangkah ketika kita belum melihat hasil.
Iman adalah ketaatan ketika kita belum memahami semuanya.
Iman adalah ketekunan ketika jawaban belum datang.
Iman adalah pengharapan ketika keadaan terlihat gelap.
Dan iman adalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.
Karena itu, jangan ukur kebesaran Allah berdasarkan besarnya masalah.
Ukur masalah berdasarkan kebesaran Allah.
Jangan katakan:
“Masalahku terlalu besar.”
Katakan:
“Allahku lebih besar daripada masalahku.”
Jangan katakan:
“Tembokku terlalu kuat.”
Katakan:
“Allah sanggup meruntuhkan tembokku.”
Jangan katakan:
“Aku tidak mempunyai jalan.”
Katakan:
“Allah sanggup membuka jalan.”
DEKLARASI IMAN
Hari ini saya memilih untuk percaya.
Saya tidak akan hidup dalam ketakutan.
Saya tidak akan menyerah kepada keadaan.
Saya tidak akan berhenti di depan tembok.
Saya akan tetap berjalan dalam iman.
Ketika ada ancaman, saya percaya Allah melindungi.
Ketika ada pergumulan, saya percaya Allah menyertai.
Ketika ada tembok, saya percaya Allah sanggup meruntuhkannya.
Ketika maut menghadang, saya tetap memiliki pengharapan di dalam Allah.
Saya percaya Allah adalah sumber kehidupan saya.
Saya percaya tidak ada keadaan yang terlalu sulit bagi Tuhan.
Saya percaya tidak ada tembok yang terlalu tinggi bagi kuasa-Nya.
Saya percaya tidak ada kegelapan yang mampu mengalahkan terang-Nya.
Dan saya percaya:
MAUT BUKAN AKHIR.
TEMBOK BUKAN BATAS.
KETAKUTAN BUKAN TUAN ATAS HIDUP SAYA.
ALLAH ADALAH PENGHARAPAN SAYA.
Karena iman, saya tetap berdiri.
Karena iman, saya tetap berjalan.
Karena iman, saya akan melihat pertolongan Tuhan.
IMAN MENGALAHKAN MAUT.
IMAN MERUNTUHKAN TEMBOK.
IMAN MEMBAWA KITA MENUJU KEMENANGAN.
Salam Hormat
Pdt. Horas Sianturi, SH MH.MTh.
Ketua Sinode
Gereja Cahaya Kemuliaan

