DARI PENOLONG MENJADI PENGKRITIK: KETIKA LIDAH MERUNTUHKAN APA YANG PERNAH DIBANGUN DENGAN TANGAN
*Oleh: Pdt. Hermina Sijabat, M.Pd.K.*
Pematangsiantar, Sumutpos.id, 29/09/2026 “Jangan sampai tangan kita pernah menolong seseorang berdiri, tetapi lidah kita kemudian menjadi alat untuk menjatuhkannya.”*
Nas Alkitab: Bilangan 12:1–10; Keluaran 2:1–10
Ironi dalam Kehidupan,
Ada kenyataan yang menyedihkan dalam kehidupan manusia: seseorang yang pernah menolong kita, mendukung kita, bahkan berkorban untuk kita, suatu hari dapat berubah menjadi orang yang mengkritik dan merendahkan kita. Sebaliknya, orang yang pernah kita tolong juga dapat menjadi sasaran perkataan buruk ketika Tuhan mulai mengangkat kehidupannya.
Kisah Miryam dan Musa dalam Alkitab memberikan pelajaran rohani yang sangat mendalam tentang hal ini.
Ketika Musa masih bayi, hidupnya terancam oleh perintah Firaun untuk membunuh anak-anak laki-laki Ibrani. Ibunya menyembunyikan Musa selama tiga bulan, kemudian menaruhnya dalam sebuah peti pandan di tepi Sungai Nil. Miryam, kakak perempuan Musa, mengawasi adiknya dari kejauhan. Ketika putri Firaun menemukan bayi itu, Miryam mengambil inisiatif untuk menawarkan seorang perempuan Ibrani yang dapat menyusui bayi tersebut. Perempuan itu adalah ibu kandung Musa sendiri (Keluaran 2:1–10).
Miryam telah mengambil bagian penting dalam menjaga kehidupan Musa. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika Musa menjadi pemimpin bangsa Israel, Miryam bersama Harun berbicara menentangnya.
Bilangan 12:1–2 mencatat bahwa mereka mengatai Musa dan mempertanyakan apakah Tuhan hanya berbicara melalui Musa.
Di sinilah kita menemukan sebuah ironi: **Miryam pernah ikut menjaga kehidupan Musa, tetapi kemudian terlibat dalam perkataan yang menyerang Musa.**
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang konflik keluarga. Ini adalah peringatan bagi setiap orang percaya, pelayan Tuhan, pemimpin, dan siapa pun yang memiliki hubungan dengan sesamanya.
1. Jangan Melupakan Peran Kita dalam Perjalanan Orang Lain
Miryam pernah hadir ketika Musa berada dalam keadaan yang sangat rentan. Musa masih bayi, belum mampu berbicara, membela diri, atau menentukan masa depannya sendiri. Miryam mengambil tindakan yang berarti bagi keselamatan adiknya.
Namun, ketika Musa dewasa dan menerima tanggung jawab besar dari Tuhan, hubungan mereka menghadapi ujian.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa menolong seseorang bukan berarti kita memiliki hak untuk mengatur seluruh kehidupannya. Berjasa kepada seseorang juga tidak menjadikan kita selalu benar dalam setiap perkataan dan tindakan.
Terkadang, seseorang merasa memiliki kedudukan khusus karena pernah membantu orang lain pada masa sulit. Ketika orang yang ditolong itu berkembang, memperoleh kepercayaan, atau menjalankan tanggung jawab yang lebih besar, muncul godaan untuk merasa lebih berhak, lebih berjasa, atau lebih pantas dihormati.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan dan tanggung jawabnya sendiri di hadapan Tuhan.
Kita perlu belajar menghargai masa lalu tanpa menjadikannya alat untuk menguasai orang lain. Pertolongan seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan tuntutan untuk selalu diutamakan.
**Kebaikan yang pernah kita lakukan seharusnya menjadi alasan untuk terus membangun, bukan dasar untuk merasa berhak menjatuhkan.**
Dalam keluarga, gereja, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat, marilah kita belajar mengingat kebaikan, menghormati pertumbuhan orang lain, serta memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjalankan panggilannya.
2. Jagalah Lidah Ketika Hati Mulai Dipenuhi Kecemburuan
Bilangan 12:2 mencatat perkataan Miryam dan Harun:
Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?”*
Perkataan ini menunjukkan bahwa persoalan mereka bukan hanya menyangkut Musa sebagai anggota keluarga, tetapi juga berkaitan dengan peran dan otoritas dalam pelayanan.
Alkitab tidak menyebut kecemburuan sebagai satu-satunya motif Miryam. Namun, pertanyaan mereka memperlihatkan adanya persoalan mengenai kedudukan Musa dan pengakuan atas peran mereka sendiri.
Bukankah hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan kita?
Seseorang dapat bekerja bersama kita selama bertahun-tahun. Namun, ketika ia menerima kepercayaan lebih besar, kita mulai mempertanyakan kemampuannya. Ketika ia dihargai, kita merasa dilupakan. Ketika pelayanannya berkembang, kita mulai mencari kekurangannya.
Tanpa disadari, hati yang tidak dijaga dapat memengaruhi perkataan. Kritik yang seharusnya disampaikan dengan kasih berubah menjadi sindiran. Perbedaan pendapat berubah menjadi pembicaraan yang merendahkan. Bahkan, pelayanan yang seharusnya menjadi sarana membangun tubuh Kristus justru menjadi ruang persaingan dan perpecahan.
Yakobus 3:5 mengingatkan bahwa lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dapat menimbulkan perkara yang besar.
Lidah dapat menghibur orang yang terluka, tetapi juga dapat memperdalam lukanya. Lidah dapat memulihkan kepercayaan, tetapi juga dapat menghancurkan hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Karena itu, sebelum berbicara tentang seseorang, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah perkataan saya bertujuan memperbaiki atau mempermalukan? Apakah saya sedang menyampaikan kebenaran dengan kasih atau melampiaskan kekecewaan? Apakah perkataan saya membangun persatuan atau memperbesar perpecahan?
Kedewasaan rohani bukan hanya terlihat dari seberapa banyak kita melayani, tetapi juga dari bagaimana kita menggunakan lidah untuk memperlakukan sesama.**
Gereja membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran, tetapi menyampaikannya dengan kerendahan hati. Gereja membutuhkan kritik yang membangun, bukan perkataan yang meruntuhkan martabat seseorang.
3. Tuhan Membela Keadilan dan Mengajar Kita untuk Merendahkan Hati
Ketika Miryam dan Harun berbicara menentang Musa, Tuhan memanggil mereka untuk menghadap. Tuhan menegaskan bahwa Musa adalah hamba yang dipercayai-Nya secara khusus (Bilangan 12:4–8).
Alkitab juga memberikan keterangan penting tentang karakter Musa dalam Bilangan 12:3:
Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.”*
Musa tidak digambarkan sibuk membalas perkataan yang menyerangnya. Tuhan sendiri yang memanggil mereka dan menangani persoalan tersebut.
Akibat peristiwa itu, Miryam terkena kusta dan harus berada di luar perkemahan selama tujuh hari. Harun kemudian memohon kepada Musa agar mereka tidak menanggung akibat dosa tersebut, dan Musa berseru kepada Tuhan supaya Miryam disembuhkan (Bilangan 12:10–13).
Respons Musa memberikan pelajaran yang kuat. Meskipun ia menjadi sasaran perkataan yang menyakitkan, ia tetap memohon kepada Tuhan bagi kesembuhan Miryam.
Di sinilah kita melihat bahwa kelembutan hati bukan berarti membiarkan kesalahan tanpa teguran. Kerendahan hati juga bukan berarti mengabaikan kebenaran. Kita dapat menegakkan kebenaran tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan.
Ketika disakiti, kita memang dapat merasa kecewa. Namun, jangan sampai kekecewaan menguasai seluruh kehidupan kita. Jangan biarkan perkataan orang lain mengubah kita menjadi pribadi yang sama-sama gemar melukai.
Kita perlu belajar membedakan antara membela kebenaran dan membalas dendam, antara memberikan teguran dan mempermalukan, serta antara menyelesaikan masalah dan memperbesar konflik.
**Orang yang dewasa secara rohani tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk melukai orang lain.**
Kita dipanggil untuk tetap melakukan yang benar, menerima teguran ketika bersalah, dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.
Pelajaran bagi Keluarga dan Pelayanan Gereja
Kisah Miryam dan Musa sangat relevan bagi kehidupan keluarga maupun pelayanan gereja masa kini.
Dalam keluarga, jangan sampai orang yang pernah berjuang bersama akhirnya saling menjatuhkan karena persoalan harga diri dan pengakuan.
Dalam pelayanan, jangan sampai rekan yang pernah berdoa, bekerja, dan melayani bersama berubah menjadi sasaran perkataan yang merusak persatuan.
Dalam kepemimpinan, jangan menggunakan kedudukan untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, jangan pula membiarkan kekecewaan terhadap seorang pemimpin berubah menjadi fitnah atau serangan pribadi.
Jika terdapat kesalahan, sampaikanlah dengan cara yang benar. Jika ada persoalan, carilah penyelesaian. Jika terjadi perbedaan pendapat, bangunlah komunikasi yang sehat.
Gereja bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling berjasa, siapa yang paling penting, atau siapa yang paling berhak dihormati. Gereja adalah tempat orang-orang percaya bertumbuh bersama, saling melayani, dan memuliakan Tuhan.
Karena itu, marilah kita membangun budaya pelayanan yang mengutamakan kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab atas setiap perkataan.
Jadilah Penolong yang Setia, Bukan Pengkritik yang Melukai
Saudara yang dikasihi Tuhan, kisah Miryam mengajak kita memeriksa hati dan lidah kita sendiri.
Mungkin kita pernah menolong seseorang ketika hidupnya sulit. Kita pernah mendampinginya, mendoakannya, membelanya, bahkan berkorban untuknya. Namun, apakah kita tetap bersukacita ketika Tuhan membuka jalan bagi kehidupannya?
Atau kita justru merasa tersaingi, dilupakan, dan kehilangan penghargaan?
Mungkin kita juga pernah berada pada posisi Musa: disalahpahami oleh orang dekat, dikritik oleh rekan seperjalanan, atau dilukai oleh perkataan orang yang dahulu kita percayai.
Apa pun posisi kita, firman Tuhan mengajak kita untuk tidak membiarkan hati dikuasai oleh kesombongan, iri hati, kepahitan, maupun keinginan membalas.
Marilah kita mengingat tiga prinsip penting:
1. Ingatlah kebaikan yang pernah kita lakukan dan terima.
Jangan menjadikan jasa masa lalu sebagai alat untuk menguasai orang lain.
2. Jagalah lidah dan periksalah hati.
Jangan membiarkan perkataan menghancurkan hubungan yang seharusnya kita pelihara.
3. Tetaplah rendah hati dan mengasihi.
Ketika disakiti, carilah jalan yang benar untuk menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan kasih.
Pada akhirnya, hidup kita bukan hanya dinilai dari berapa banyak orang yang pernah kita tolong, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan mereka setelah pertolongan itu diberikan.
Jangan sampai kita dikenang sebagai orang yang pernah menolong seseorang berdiri, tetapi kemudian menjatuhkannya melalui perkataan kita.
**Sebab tangan yang menolong adalah berkat, tetapi lidah yang tidak terkendali dapat menjadi luka.**
Mari kita menjadi pribadi yang tangannya membangun, mulutnya memberkati, hatinya rendah hati, dan kehidupannya memuliakan Tuhan.
*Tuhan menolong kita untuk menjadi pembawa damai, bukan penyebab perpecahan; menjadi penguat, bukan peruntuh; dan menjadi berkat bagi setiap orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup kita. Amin.*
Salam Pdt Hermina Sijabat MPd.K
(Red-Sp.id/ Tim 01/HS)

