TEHERAN/RIYADH,Sumutpos.id- (20 Maret 2026) – Suasana penghujung Ramadan 1447 Hijriah di Timur Tengah tahun ini diselimuti ketegangan militer yang luar biasa. Otoritas keagamaan di beberapa negara utama telah menetapkan jatuhnya 1 Syawal, namun perayaan kali ini jauh dari kesan damai akibat eskalasi perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Situasi Terkini:
- Penetapan Idul Fitri: Pemerintah Iran dan Irak (melalui Ali al-Sistani) mengumumkan bahwa Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sebaliknya, Arab Saudi menetapkan 1 Syawal jatuh lebih awal, yaitu pada hari ini, Jumat, 20 Maret 2026.
- Eskalasi Militer: Perayaan di Iran berlangsung di tengah kondisi darurat setelah "Operation Lion's Roar" yang diluncurkan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Rudal dan drone dilaporkan masih menyasar pangkalan militer di kawasan Teluk, sementara Iran terus melakukan serangan balasan ke arah aset-aset strategis di Israel dan pangkalan AS.
- Krisis Jalur Energi: Selat Hormuz kini dilaporkan nyaris tidak bisa dilalui kapal tanker akibat ancaman serangan. Hal ini memaksa raksasa energi seperti Saudi Aramco mengalihkan pengiriman minyak mentah melalui jalur alternatif di Laut Merah menuju pelabuhan Yanbu.
- Gencatan Senjata Regional: Di sisi lain, ada sedikit kabar baik dari wilayah perbatasan Asia Selatan. Pakistan dan Afghanistan (Taliban) sepakat melakukan gencatan senjata sementara selama lima hari (19–24 Maret) untuk menghormati perayaan Idul Fitri, setelah sempat terlibat perang terbuka sejak Februari.
Dampak bagi Warga Indonesia:
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah telah mengeluarkan imbauan agar jemaah menunda keberangkatan umrah untuk sementara waktu. Hal ini dikarenakan terganggunya lebih dari 23.000 jadwal penerbangan internasional di ruang udara Timur Tengah akibat risiko keamanan yang tinggi.
"Kami mengimbau jemaah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda perjalanannya demi keselamatan, mengingat eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda," ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak. (Red)
