Kilas Balik Kehidupan Ibunda Soekarno, Dan Alasan Penyebab Sukmawati Pindah Agama -->
AYO IKUTI PROTOKOL KESEHATAN - CEGAH PENYEBARAN COVID-19 DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI

Iklan

Kilas Balik Kehidupan Ibunda Soekarno, Dan Alasan Penyebab Sukmawati Pindah Agama

Senin, 25 Oktober 2021

(Image/Gambar) : Ida Ayu Nyoman Rai Srimben ibunda dari Soekarno
 

Medan - Sumutpos.id : Sosok neneknya menjadi inspirasi berpindah keyakinan.

 “Iya (alasannya karena sosok nenek). Ibunya Bung Karno kan Ida Nyoman, bangsawan Bali,” kata pengacara Sukmawati, Witaryono Reksoprojo, Jumat (22/10) kemarin.

 

Mari mengenal lebih dekat dengan sosok Ida Nyoman Rai. Profil ini dikutip dari situs Kepustakaan Presiden RI yang mendasarkan tulisannya dari ‘Ibu Indonesia dalam Kenangan’ karya Nurinwa, Ki S Hendrowinoto, dkk, diterbitkan Bank Naskah Gramedia, bekerjasama dengan Yayasan Biografi Indonesia tahun 2004, yang diakses pada Sabtu (23/10/2021).


Ida Ayu Nyoman Rai lahir pada 1881. Dia adalah putri Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Dia adalah keturunan bangsawan Singaraja, Bali. Lalu dari mana nama ‘Srimben’?

 

Sewaktu kecil, orang tuanya memberi panggilan ‘Srimben’, yang mengandung arti limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

 

Perkenalan dengan ayah Sukarno

 

Semasa remaja di Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben bersahabat dengan Made Lastri, yang kemudian mengenalkannya dengan seorang guru Jawa pendatang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo.

 

Raden Soekemi akhirnya berhasil membawa lari Nyoman Rai Srimben untuk bersatu menempuh hidup baru dengan perjuangan yang hampir melewati pertumpahan darah. Mereka resmi menikah pada 15 Juni 1887. ‘Misteri Putra Kelud’ karangan Wahyudi Djaja menyebut mereka menikah pada 1896. Putri pertamanya, Raden Soekarmini (kelak dikenal sebagai Bu Wardoyo), lahir pada 29 Maret 1898 dan kemudian berpindah ke Surabaya.

 

Melahirkan dan dan membesarkan Sukarno

 

Di Surabaya, Nyoman Rai Srimben melahirkan Sukarno (saat itu namanya adalah Koesno Sosrodihardjo) pada 6 Juni 1901. Nyoman Rai Srimben melahirkan Putera Sang Fajar di sebuah rumah kampung sederhana di sekitar makam Belanda, Pandean III, Surabaya. Nyoman Rai Srimben mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual Hindu seperti yang pernah dipelajarinya.

 

Enam bulan kemudian, Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya untuk pindah ke kota kecil Kecamatan Ploso (Jombang) dan di sinilah ia mengalami penderitaan yang luar biasa karena kedua anaknya sering sakit-sakitan. Karena faktor kesehatan pula, Nyoman Rai Srimben sempat berpisah dengan Sukarno untuk dirawat dan diasuh oleh mertuanya di Tulung Agung. Namun akhirnya Sukarno dapat diasuh kembali ketika ia harus mengikuti suaminya pindah ke Mojokerto. Di Mojokerto pula putri sulungnya menikah dan kemudian tinggal bersama suaminya. Nyoman Rai Srimben sangat bersedih karena harus berpisah dengan anaknya. Sebagai pelipur lara, ia memfokuskan diri dengan melimpahkan kasih sayangnya kepada Sukarno.

 

Persoalan muncul ketika Srimben dihadapkan pada kepindahan suaminya ke Blitar sekaligus menghadapi kenyataan Sukarno untuk sekolah di Surabaya. Akhirnya ia mengikuti kepindahan suaminya ke Blitar dan Sukarno dititipkan di rumah HOS Tjokroaminoto untuk meneruskan sekolah di Surabaya.

 

Di Blitar, Nyoman Rai Srimben tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut.

 

Mengetahui Sukarno cerai-nikah dan dipenjara

 

Peristiwa yang paling mengharukan di Blitar adalah saat menikahkan Sukarno dengan Utari, putri HOS Tjokroaminoto, namun kemudian Sukarno mohon untuk menceraikan Utari.

 

Perasaan hancur dan sekaligus terharu menyelimuti hati Nyoman Rai Srimben, namun dirinya hanya bisa berkata, “Pilihlah jalan yang terbaik, dan kalau itu niatmu, silakan jalani dengan baik.”

 

Rasa terharu kembali terulang ketika di Bandung, putranya, Sukarno, menulis surat bahwa dirinya akan menikah dengan seorang janda bernama Inggit Ganarsih.

 

Permasalahan lain yang menjadi suka-duka adalah berita tentang ditahannya Sukarno di Penjara Sukamiskin, Bandung.


Nyoman Rai Srimben langsung menuju Bandung dan mendatangi Penjara Sukamiskin dan karena ia buta politik dirinya langsung bertanya kepada petugas rumah tahanan.

 

Bukan jawaban yang diperolehnya, melainkan bentakan dan diusir untuk pergi dari rumah tahanan tersebut. Sejak saat itu dendam Nyoman Rai Srimben tidak terbendung, di mana pun berada, jika melihat orang Belanda, ia memperlihatkan ketidaksukaannya.

 

Di saat yang sama, rumahnya di Blitar diawasi karena putranya melawan penjajahan Belanda.

 

Nyoman Rai Srimben menceritakan kejadian yang dialaminya di rumah tahanan sehingga akhirnya Raden Soekemi, ayah Sukarno, memutuskan pensiun dini sebagai guru dari Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.

 

Kehidupan di Blitar kembali bergemuruh ketika Nyoman Rai Srimben mendengar bahwa putranya bercerai dari Inggit dan kemudian menikah dengan Fatmawati, semua beritanya diterima dengan tabah.

 

Dikaruniai cucu

 

Hasil pernikahan Sukarno dengan Fatmawati memberikan seorang cucu yang sangat diharapkan oleh Nyoman Rai Srimben dan Raden Soekemi. Nyoman Rai Srimben dan Raden Soekemi menyaksikan kelahiran cucunya di Jakarta.

 

Sebagaimana diketahui, Sukarno dan Fatmawati melahirkan Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh Sukarno Putra.

 

Kebahagiaan Nyoman Rai Srimben tidaklah lama karena pada saat berjalan-jalan di Jakarta, Raden Soekemi terjatuh dan sakit keras hingga akhirnya meninggal pada 8 Mei 1945.

 

Kemudian Nyoman Rai Srimben kembali ke Blitar. Pada hari tuanya, ketika Sukarno telah menjadi ‘orang pertama’ di Republik Indonesia, Nyoman Rai Srimben tidak pernah mau menginjakkan kakinya di Istana Negara.

 

Nyoman Rai Srimben menjadi pelopor perkawinan campur antarsuku, sehingga mungkin memberikan inspirasi kepada Sukarno untuk menyatukan Nusantara menjadi Republik Indonesia.

 

Pada 12 September 1958, Nyoman Rai Srimben meninggal dan dimakamkan berdampingan dengan makan putranya, Sukarno, dan suaminya, Raden Soekemi Sosrodihardjo.

 

Profil singkat
Ida Ayu Nyoman Rai Srimben
Lahir: Bali, 1881
Meninggal dunia: 12 September 1958

 

Orang tua:

  • Nyoman Pasek (ayah)
  • Ni Made Liran (ibu)

 

Suami: Raden Soekemi Sosrodihardjo
Anak:

  • Raden Soekarmini
  • Sukarno

 

(Red-SP.ID/Sa/Ef/Ya/Montt)

 

Sumber: detikcom.