-->

Menjadi Politisi Kristen yang Berintegritas:


Pdt Horas Sianturi

Menjadi Politisi Kristen yang Berintegritas:

Meneladani Yusuf dan Daniel di Tengah Tantangan Politik Modern yang Penuh Godaan


Pematangsiantar 5/02/2026 - Sumutpos.id -Di tengah lautan godaan dan tantangan yang menghadang dunia politik saat ini, baik politik hanya pencitraan, hanya tujuan pribadi dan dinasty.

 Menjadi seorang politisi Kristen dihadapkan pada pilihan mendasar: apakah akan menjaga prinsip iman yang kokoh atau tergoda oleh godaan kekuasaan dan keuntungan pribadi. 


Integritas, keadilan, dan semangat pelayanan bukan sekadar kata-kata kosong, melainkan nilai-nilai yang harus dipegang teguh dengan sungguh-sungguh.

 Tokoh-tokoh Alkitab Yusuf dan Daniel memberikan contoh nyata bahwa politik yang benar bukan tentang mengejar kekuasaan, melainkan tentang melayani rakyat dengan kesetiaan, kebenaran, dan kehormatan yang tak tergoyahkan.


Yusuf di Mesir: Integritas yang Tak Goyahkan dalam Penderitaan dan Godaan


Di era sekarang, tidak jarang kita melihat politisi yang terjebak dalam godaan menggunakan posisi untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Keinginan untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan sering kali membuat mereka menyimpang dari landasan moral dan integritas. Namun, kisah Yusuf mengingatkan kita bahwa integritas bukanlah pilihan yang mudah, tetapi sebuah komitmen yang harus dijaga walau dalam kondisi paling sulit.


Meskipun dijual oleh saudara-saudaranya dan terjebak dalam status budak, Yusuf tetap setia pada Tuhan (Kejadian 39:9).


Ketika dihadapkan pada godaan istri Potifar yang menawarkan keuntungan pribadi, ia dengan tegas menolaknya—menunjukkan bahwa prinsip lebih berharga daripada kesempatan yang tampak menggiurkan.


 Di tengah maraknya kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam sistem politik kita saat ini, teladan Yusuf menjadi pijakan penting: seorang politisi Kristen harus berani menolak setiap bentuk penyimpangan dan tidak terjerumus dalam godaan duniawi.

Setelah menjadi pejabat tinggi di Mesir, Yusuf tidak menyalahgunakan wewenangnya.

 Sebaliknya, ia menggunakan kekuasaan untuk merencanakan program penyimpanan pangan yang menyelamatkan jutaan nyawa dari kelaparan. Di masa di mana krisis pangan global dan ketimpangan ekonomi menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia, politisi Kristen harus mengambil pelajaran dari Yusuf: kekuasaan ada untuk melayani dan menjaga kesejahteraan rakyat, bukan untuk kemakmuran pribadi.

Daniel di Babilonia: Kesetiaan dan Keberanian di Tengah Lingkungan yang Berbeda

Banyak politisi Kristen modern hidup dan bekerja dalam sistem pemerintahan atau partai politik yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Kristen. Seperti Daniel yang tinggal di Babilonia—negara dengan sistem pemerintahan yang sangat berbeda dari prinsip hidup yang berdasarkan iman kepada Tuhan—mereka dihadapkan pada tantangan untuk tetap konsisten dengan keyakinan meskipun di lingkungan yang kurang mendukung.

Daniel menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Ia menolak makanan yang bertentangan dengan hukum Tuhan (Daniel 1:8) dan tetap melaksanakan ibadah dan doa meskipun ada ancaman hukuman mati (Daniel 6:10). Di zaman di mana banyak politisi mengorbankan nilai-nilai moral untuk menjaga posisi atau mendapatkan dukungan politik, Daniel menjadi contoh bahwa seorang politisi Kristen harus memiliki keberanian untuk berdiri teguh pada prinsip, meskipun itu berpotensi merugikan karir politiknya.


Selain itu, Daniel menggunakan pengaruhnya untuk memberikan nasihat bijak kepada raja-raja Babilonia, selalu mengakui bahwa hikmatnya berasal dari Tuhan (Daniel 2:27-28). Ini adalah pelajaran krusial: ketika dipercaya dengan kekuasaan, jangan pernah melupakan Sumber Hikmat yang sejati. Setiap keputusan harus berdasarkan ketergantungan pada Tuhan, dan kekuasaan tidak boleh mengaburkan prinsip-prinsip iman yang menjadi landasan hidup.


Dampak Karakter: Menentukan Arah Perjalanan Bangsa

Dampak Positif dari Politisi Kristen yang Berkarakter

Ketika seorang politisi Kristen tetap konsisten dengan nilai-nilai integritas, pelayanan, dan ketergantungan pada Tuhan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga merambah ke seluruh masyarakat dan bangsa:

- Membangun Kepercayaan Rakyat: Integritas menjadi dasar untuk mendapatkan kepercayaan rakyat, yang sangat penting bagi stabilitas dan efektivitas pemerintahan. Dengan kepercayaan yang kuat, rakyat akan lebih siap mendukung kebijakan yang bermanfaat bagi bersama.

- Mendorong Keadilan dan Kesejahteraan: Seperti Yusuf, politisi yang berkarakter akan mengutamakan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak, bukan kelompok tertentu. Hal ini akan memperkuat keadilan sosial dan mengurangi ketimpangan.

- Menginspirasi Perubahan Positif: Sebagai agen perubahan, mereka dapat membantu memperbaiki sistem politik yang rusak dan mengembalikkannya pada jalur yang benar, memberi contoh yang baik bagi sesama politisi dan masyarakat.

- Membangun Negara yang Kokoh dan Berkah: Negara yang dipimpin oleh mereka yang mengutamakan prinsip moral dan spiritual akan lebih stabil, berkembang, dan menerima berkah dari Tuhan, sebagaimana dijanjikan bagi bangsa yang hidup dalam kebenaran.

Dampak Negatif dari Politisi yang Tidak Berkarakter

Sebaliknya, ketika seorang politisi mengabaikan karakter yang benar dan menyimpang dari prinsip moral Kristen, konsekuensinya sangat merugikan:

- Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan: Mereka cenderung menggunakan posisi untuk kepentingan pribadi, yang menghambat pembangunan dan menciptakan ketidakadilan bagi rakyat.

- Hilangnya Kepercayaan Rakyat: Skandal dan penipuan politik membuat rakyat kehilangan kepercayaan pada sistem pemerintahan, merusak fondasi hubungan antara pemerintah dan rakyat.

- Ketidakadilan dan Ketimpangan: Keputusan yang tidak adil akan menghasilkan kebijakan yang menguntungkan segelintir orang saja, memperparah kesenjangan sosial dan merusak kohesi bangsa.

- Kehancuran Moral dan Spiritual: Tanpa landasan karakter yang kuat, tidak hanya sistem politik dan ekonomi yang tercoreng, tetapi juga moral dan spiritualitas bangsa akan tergerus, membuat negara kehilangan arah dan visi yang jelas.


Kesimpulan: Memilih Jalan yang Benar

Karakter seorang politisi Kristen memegang peran sentral dalam membentuk masa depan bangsa. Seperti Yusuf dan Daniel yang mengedepankan integritas, pelayanan kepada rakyat, dan ketergantungan pada Tuhan, politisi Kristen masa kini dipanggil untuk berani memilih jalan yang benar—meskipun itu sulit atau tidak populer. Tindakan yang berlandaskan karakter baik akan membawa kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan, sedangkan mengabaikan karakter hanya akan menumbuhkan korupsi, ketidakadilan, dan kehancuran sosial.


Sebagai politisi Kristen, kita harus selalu ingat bahwa karakter kita akan menentukan arah kebijakan yang kita buat dan akhirnya akan membentuk masa depan rakyat yang kita layani. Seperti yang tertulis dalam Matius 5:13-16, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia—membawa keadilan, kebenaran, dan kasih dalam tengah dunia yang penuh godaan dan ketidakadilan.

Penulis

Pdt.Adv. Horas Sianturi SH. MH,MTh.

Ketua Sinode Gereja Cahaya Kemuliaan

Pematang Siantar-Sumut.


0 Response to "Menjadi Politisi Kristen yang Berintegritas:"

Posting Komentar